Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Keluarga Pasien Covid-19 Tak Jujur, Puluhan Warga Kampung Mayongan Bantul Diswab

Warga Kampung Mayongan, Trimurti, menjalani swab PCR, Jumat (4/6/2021). (Harian Jogja/Jumali)

MURIANEWS, Bantul – Sebanyak 28 warga kampung Mayongan, Trimurti, Srandakan, Kabupaten Bantul, DIY, harus menjalani swab test PCR.

Tes ini dilakukan setelah ada salah seorang warga positif Covid-19 meninggal dunia namun dimakamkan tidak menggunakan protokol kesehatan pada 24 Mei lalu.

Kejadian itu berlangsung di RT 114, Kampung Mayongan. Ketua RT 114, Fajar Zainudin, mengaku warganya dibohongi oleh keluarga dari jenazah positif Covid-19.

Sebab, keluarga menyembunyikan status jenazah tersebut. Padahal, jenazah yang dimakamkan tersebut adalah suspek Covid-19.

“Jadi meninggalnya pada 23 Mei. Saya sempat menanyakan kepada keluarga jenazah apakah itu suspek Covid-19 atau tidak? Dijawab tidak. Tapi, tanggal 28 Mei tiba-tiba ada surat yang menyatakan jika jenazah tersebut positif Covid-19,” terangnya seperti dikutip Solopos.com, Jumat (4/6/2021).

Fajar juga membantah informasi yang berkembang bahwa warganya menolak pemakaman jenazah Covid-19 dengan protokol kesehatan. Jika keluarga jenazah jujur, warga tetap meminta agar pemakaman itu dilakukan dengan protokol kesehatan.

“Orang sebelumnya, beberapa bulan lalu, pernah ada jenazah positif Covid-19 dari kampung sini dan dimakamkan dengan protokol kesehatan,” jelas Fajar.

Ia mengungkapkan saat jenazah datang, tidak menggunakan ambulans dari RSUP Sardjito, lokasi dirawatnya pasien Covid-19. “Namun, keluarga memilih menggunakan ambulans sendiri. Selain itu, jenazah juga tidak dipeti, tapi dibungkus plastik,” lanjutnya.

Melihat kondisi jenazah dan mengacu keterangan pihak keluarga, papar Fajar, warga pun kemudian mengumumkan melalui pengeras suara di masjid agar warga berkumpul untuk memberikan bantuan kepada keluarga yang berduka.

“Termasuk memandikan jenazah dan memakamkannya. Jadi kami dibohongi oleh keluarganya,” terang Fajar.

Akibat adanya pemakaman tanpa protokol kesehatan tersebut, Fajar mengungkapkan warga di wilayahnya harus menjalani swab PCR. Swab pertama diikuti 8 orang yang terdiri dari keluarga jenazah.

“Hasilnya 5 positif. 3 negatif. Itu yang positif semua keluarga jenazah. Swab kedua, 1 orang yang mengikuti, swab ketiga ada 6 orang yang mengikuti. Dan hari ini, ada 13 mengikuti swab. Sejauh ini baru 5 orang yang positif. Lainnya, untuk swab kedua sampai hari ini belum diketahui hasilnya,” ungkap Fajar.

Untuk lima orang keluarga jenazah, lebih lanjut Fajar menyatakan sampai saat ini masih menjalani isolasi di selter milik Pemkab Bantul di Niten. Sehingga sampai saat ini, warga juga belum bisa berkomunikasi dengan keluarga jenazah.

“Setelah diketahui bahwa jenazah positif Covid-19, kami juga telah melakukan penyemprotan disinfektan di rumah mereka [tempat pemulasaraan],” jelas Fajar.

Penewu Srandakan, Anton Yulianto, mengatakan pada swab keempat di Mayongan berjalan lancar dan tidak ada penolakan dari warga. “Alhamdulillah warga sangat kooperatif, jadi bisa selesai,” katanya.

Anton mengakui selain di Mayongan, ada dua kasus pemakaman jenazah positif Covid-19 yang dilakukan tanpa protokol kesehatan.

Kedua kasus lainnya itu terjadi di Padukuhan Lopati pada 18 Mei 2021 dan 1 Juni 2021. Sementara dari dua kasus di Lopati, kasus terakhir yakni 1 Juni 2021 yang kemudian viral dan dilaporkan oleh anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bantul ke Polres Bantul karena dugaan adanya provokasi.

Khusus untuk swab terhadap warga yang hadir dalam pemakaman di Lopati, Anton menyebutkan akan dilakukan pada Sabtu (5/6/2021). Nantinya swab akan dilakukan dengan cara jemput bola.

“Nanti mobil akan ditempatkan di salah satu rumah warga, dan dilakukan pemanggilan warga untuk menjalani swab,” ucap Anton.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...