Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Zinedine Zidane Ungkap ‘Kemarahannya’, Inilah Penyebab Dirinya Hengkang dari Madrid

Zinedine Zidane. (mundodevortivo/Borja B. Hojas – Borja B. Hojas / AP)

MURIANEWS, Madrid- Keputusan Zinedine Zidane meninggalkan Madrid akhir musim ini, menimbulkan berbagai spekulasi. Legenda Timnas Perancis ini tidak mau membeberkan banyak alasan mengapa dirinya ‘pergi’.

Namun, Senin (31/5/2021), Zidane akhirnya menyampaikan peryataan terbuka melalui sebuah surat kabar di Eropa. Seperti yang dibeberkan oleh Mundo Deportivo, Zidane akhirnya menjelaskan secara jelas mengapa akhirnya dirinya pergi dari Madrid, untuk kedua kalinya.

Mundo Devortivo menyebut, Zidane menyampaikan perasaan kekecewaannya, hingga akhirnya meninggalkan Madrid. Pernyataannya itu bahkan ‘ditembakannya’ langsung kepada mantan klubnya itu. Zidane mengeluarkan semua yang dirasakannya melalui surat terbuka yang ditujukan kepada pendukung Madrid.

Dalam suratnya, ia menyatakan Real Madrid sudah tidak memberinya kepercayaan diri seperti yang dibutuhkannya. Real Madrid disebutnya tidak menawarkan dukungan kepada dirinya. Baik dukungan untuk membangun sesuatu dalam jangka menengah atau panjang.

Pada awal surat terbukanya, Zidane menyinggung kecintaannya pada Real Madrid dan para pendukungnya. Klub itu disebutnya telah memberikan dirinya sebuah cinta. Sehingga menimbulkan sesuatu yang istimewa diantara dirinya dan klub.

“Selama dua puluh tahun, sejak hari pertama saya menginjakkan kaki di kota Madrid dan mengenakan jersey putih (Madrid), Anda telah memberi saya cinta Anda. Saya selalu merasa ada sesuatu yang sangat istimewa di antara kita,” ujar Zidane.

Selanjutnya Zidane juga merasa mendapatkan kehormatan, saat menjadi pemain dan pelatih klub besar di dunia ini. Namun diatas segalanya, dirinya tetap sebagai seorang pendukung Real Madrid.

Maret 2019, Zidane setuju untuk kembali melatih Madrid, setelah istirahat sekitar delapan bulan. Hal itu karena Florentino Perez memberikan tawaran kepada dirinya. Tawaran itu diterimanya, karena dirinya adalah seorang Madrista dan setiap hari merasa mendapatkan dukungan untuk menerima hal itu.

Selain itu, dirinya merasa berhutang pada Florentino Perez saat pada kesempatan pertama pada tahun 2001 ‘bertaruh’ dengan menunjuk dirinya sebagai pelatih. Perez saat itu disebutnya telah memperjuangkan dirinya, disaat ada orang-orang tertentu yang menentang penunjukan dirinnya.

“Saya mengatakannya dari hati saya, saya akan selalu berterima kasih kepada presiden untuk itu. Selama-lamanya. Saya di sini untuk memenangkan piala, tetapi di luar ini adalah manusia, emosi, kehidupan dan saya merasa bahwa hal-hal ini belum dihargai ,” ujarnya.

Meskipun saat ini dirinya pergi dari Madrid, namun tidak sedikitpun dirinya meninggalkan rasa cintanya pada Madrid. Pada 2018 dirinya memutuskan pergi setelah mendapatkan sejumlah gelar, dan berpikir bahwa Madrid membutuhkan wacana baru agar tetap menjadi yang terbaik. Namun kepergiannya pada musim ini situasinya disebutkannya berbeda.

“Saya pergi karena saya merasa klub tidak lagi memberi saya kepercayaan diri yang saya butuhkan, itu tidak memberi saya dukungan untuk membangun sesuatu dalam jangka menengah atau panjang,” sergahnya.

“Saya tahu sepakbola, dan saya tahu tuntutan klub seperti Madrid. Saya tahu bahwa ketika Anda tidak menang, Anda harus pergi. Tapi di sini hal yang sangat penting telah dilupakan, semua yang saya bangun setiap hari telah dilupakan, apa yang telah saya sumbangkan dalam hubungan dengan para pemain, dengan 150 orang yang bekerja dengan dan di sekitar tim,” lanjutnya.

Zidane secara jelas menyebut dirinya merasa sakit hati, ketika banyak kabar di media menyebut dirinya akan dipecat jika tidak bisa menang di pertandingan berikutnya. Hal ini membuat dirinya dan para pemainya tersakiti, karena dengan sengaja dibocorkan ke media oleh klub.

“Agar bisa bertahan lebih lama, hubungan antarmanusia sangat penting, mereka lebih penting daripada uang, lebih penting daripada ketenaran, lebih penting dari segalanya. Anda harus merawat mereka. Itulah mengapa sangat menyakitkan ketika saya membaca di media, setelah kalah, bahwa mereka akan mengeluarkan saya jika saya tidak memenangkan pertandingan berikutnya,” ungkapnya lagi.

“Itu menyakiti saya dan seluruh tim karena pesan-pesan ini dengan sengaja bocor ke media menciptakan gangguan negatif pada skuad, mereka menciptakan keraguan dan kesalahpahaman. Untung saya memiliki pemain-pemain yang luar biasa yang bersedia mati bersama saya,”

“Ketika keadaan menjadi buruk, mereka menyelamatkan saya dengan kemenangan besar. Karena mereka percaya pada saya dan mereka tahu saya percaya pada mereka. Tentu saja saya bukan pelatih terbaik di dunia, tetapi saya mampu memberikan kekuatan dan kepercayaan diri yang dibutuhkan,” tegasnya.

Penulis: Budi erje
Editor: Budi erje
Sumber: mundodevotivo.com

 

Comments
Loading...