Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

OPINI

Percakapan Anak SD dan Gus Dur yang Selalu Ada

Nuzula Nailul Faiz *)

PERTAMA kali saya berkenalan dengan nama KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yaitu saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, dari teman saya sekelas yang beragama Kristen Protestan. Dalam salah satu percakapan ringan ala anak SD di sela-sela waktu istirahat, ia menceritakan tentang salah satu orang Islam yang katanya sakti.

“Ada orang Islam yang terkenal sakti. Beliau itu enggak bisa lihat, tapi paham Alquran. Itu lho, presiden keempat kita, Gus Dur”.

Kelak, setelah saya lebih banyak belajar tentang sosok ini, bisa dibilang -meminjam bahasa teman saya yang masih SD-, “kesaktian” Gus Dur lebih dari itu.

Saya ingat percakapan antara dua anak SD beda agama itu, berlangsung saat Gus Dur masih hidup. Mungkin dari situlah, titik awal di mana hari-hari saya tak pernah sepi dari nama Gus Dur dalam berbagai pembahasan. Dan itu tak menjadi berhenti dan malah semakin riuh dengan bercampur rasa kerinduan, meski Gus Dur telah wafat di akhir tahun 2009.

Dan entah kenapa, percakapan sederhana antara saya dan teman saya itu melekat dengan ingatan saya ketika Gus Dur dibicarakan. Dalam bahasa anak-anak, Gus Dur sudah dikagumi oleh anak SD lintas agama. Walau mungkin masih tak terlalu paham dengan pemikiran beliau, anak kecil seperti kami membicarakan, dan mungkin, sepertinya kami mulai mencintai beliau.

Saya rasakan Gus Dur masih selalu hadir dalam berbagai problematika kebangsaan aktual. Ajaran dan dawuh-dawuh Gus Dur soal pluralisme yang disuarakan penerus beliau muncul, setiap ada kasus penolakan pembangunan tempat ibadah kaum minoritas.

Rekaman amatir saat beliau mengisi pengajian kampung, yang berisi cerita beliau ketika memutuskan untuk tidak melakukan perlawanan saat dilengserkan secara zalim dari kursi Presiden meski didukung banyak pihak, selalu muncul dan membuat kita trenyuh tiap ada kandidat Capres yang tidak legawa menerima kekalahan.

Bahkan di pelosok-pelosok kampung, Syi’ir Tanpo Waton Gus Dur masih menggema di toa masjid dan langgar-langgar setiap magrib atau lainya, oleh jemaah berbagai usia.

Kehadiran Gus Dur juga terasa pada hari-hari ini. Saat 30 September tiba, dan isu kebangkitan PKI terus dijual untuk kepentingan politik. Gus Dur meneladankan hal besar, saat beliau sebagai Presiden, beliau membuat kebijakan mencabut Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966, karena mengucilkan idealisme maupun organisasi PKI bukanlah tugas negara.

Selain itu, beliau juga atas nama Negara meminta maaf pada tapol eks-anggota PKI yang tak pernah diadili dan keluarganya. Dari sini bisa dilihat bagaimana Gus Dur adalah pemimpin yang memahami sejarah dan bagaimana negara dijalankan sesuai dengan nilai yang disepakati warganya.

Beliau juga sedang mengajarkan bagaimana cara yang tepat menghadapi luka lama yang kelam: tidak melupakan, saling memaafkan, menjadikannya pelajaran, dan yang jelas, tidak berniat mengobarkan dendam kembali untuk kepentingan nafsu politik sesaat.

Bagi saya Gus Dur adalah kiai cerminan dari maqolah, “khoirun nas anfa’uhum linnas”. Ajaran dan teladan beliau masih terus bermanfaat dan relevan untuk digali lagi kemanfaatannya dalam berbagai dikursus pembahasan suatu masalah, mulai dari soal agama, sosial, ekonomi, budaya, politik, dan sebagainya, sampai sekarang. Karena itu, kalau kemanfaatan beliau bagi kami tak pernah habis meski beliau telah wafat, maka jangan larang kami untuk mencintai beliau tanpa habis. (*)

 

*) Penulis adalah mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments
Loading...