Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Guardiola Kembali ‘Main-Main’ Saat Hadapi Tuchel, Hasilnya Kalah Lagi

Tuchel (kanan), mengalahkan Guardiola sekali lagi. ((theguardian.com/Alexander Hassenstein – UEFA / UEFA / Getty Images)

MURIANEWS, Manchester- Kekalahan Manchester City 0-1 dari Chelsea, di Liga Champions yang digelar di Stadin Dragao, Porto, Minggu (30/5/2021) menjadi kekecewaan besar para pendukungnya. Media di Manchester Inggris, bahkan menyebut Guardiola terlalu berani ‘bermain-main’ dalam pertandingan ini.

Manchester City yang berada di Porto, untuk final pertama Liga Champions, berharap bisa meraih treble musim ini, melalui kemenangan bersejarah. Namun, yang menghalangi mereka adalah tim Chelsea yang dilatih Thomas Tuchel.

Pelatih asal Jerman ini, sebelumnya sudah dua kali memenangkan pertandingan yang mempertemukan dua tim ini. Pertemuan Pep Guardiola Vs Thomas Tuchel ini bahkan sebenarnya bisa dibilang sebagai pertemuan antara guru melawan murid. Tentu saja, dengan hasil si murid terus-menerus memenangkan pertarungan.

Pep Guardiola sendiri selalu membuat kejutan saat menghadapi Chelsea. Terakhir, susunan pemain yang disiapkannya menghadapi Chelsea langsung menimbulkan ‘keterkejutan’. Manchester Evening News (MEN), bahkan sempat memberitakan bahwa keputusannya itu membuat seluruh pendukung City terkejut.

Terutama keputusannya untuk memilih Raheem Sterling ketimbang Fernandinho, membuat banyak pendukungnya sempat bertanya-tanya di banyak kesempatan. Dengan formasi pemain yang dipilihnya, Guardiola nampak ingin lebih keras dalam melakukan serangan ke Chelsea.

Namun dampaknya, tidak ada tempat bagi Fernandinho atau Rodri yang bisa memberi kekuatan di sepertiga daerah pertahanannya. Manchester City akhirnya bisa dikatakan tampil tanpa menggunakan gelandang bertahan.

BACA JUGA: Jadi Kunci Kemenangan Chelsea, N’golo Kante Dipuji Tinggi,

Pep Guardiola Bagaikan ‘Konduktor Gila’, Saat Memimpin City di Final Champions

MEN menyebut, Guardiola ingin lebih banyak penyerang di lapangan. Namun pada akhirnya Chelsea berhasil merespons dengan baik, dan lebih baik di babak pertama. Tuchel berhasil membaca kemungkinan yang bakal terjadi atas strategi Guardiola ini.

Maka, setelah Timo Werner melewatkan tiga peluang bagus, Kai Havertz akhirnya mampu mencetak gol sesaat sebelum jeda. Kubu Manchester City semakin mendapatkan pukulan, manakala Kevin De Bruyne mengalami cidera dan harus ditarik keluar.

Impian Liga Champions Manchester City mati di Porto, pertandingan yang terlalu jauh di musim yang brilian. Mereka dikalahkan oleh Chelsea yang bisa bermain praktis, spontan dan efefektif. Tim ini di otaki oleh Thomas Tuchel, murid yang kembali mengalahkan master Catalan untuk ketiga kalinya.

Masa-masa indah Manchester City di akhir musim, akhirnya harus dihiasi dengan kepiluan dan kesedihan. Sergio Aguero yang akan meninggalkan City, tak mampu menagan isak tangisnya. Sementara Aleks Zinchenko tertelungkup dengan wajah terkubur rumput stadion Dragao, Porto.

Pep Guardiola sepertinya sudah memetik hikmahnya dari babak perempat final dan semifinal, dengan hanya menyisihkan tim terbaiknya, di posisi terbaiknya. Tapi dia tidak bisa menahan satu pertandingan terakhirnya.

Guardiola ‘bermain-main’ dengan berani ketika sampai ke final, saat mengandalkan Raheem Sterling yang tidak dalam bentuk permainan terbaiknya. Padahal sebelumnya pemain ini sudah beberapa kali tidak dimainkannya sebagai starter. Demikian analisa yang disebut oleh para jurnalis yang dilansir MEN, usai pertandingan.

Penulis: Budi erje
Editor: Budi erje
Sumber: manchestereveningnews.co.uk

Comments
Loading...