Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Jadi Bahan Obat Herbal, 3,6 Ton Daun Lompong Kering Asal Semarang Diekspor ke Australia

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu melepas ekspor daun lompong kering ke Austraslia (Istimewa)

MURIANEWS, Semarang – Daun lompong atau talas ternyata tengah menjadi primadona pasar Internasional, khususnya Australia. Tanaman yang biasanya tumbuh di pekarangan rumah ini kian diminati lantaran menjadi bahan obat herbal.

Hal ini diketahui saat Pemkot Semarang yang diwakili langsung Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu secara simbolis melakukan pelepasan ekspor produk daun lompong sebanyak 3,6 ton ke Australia.

Petani lompong sekaligus Direktur CV Dian Pratama, Hendy Purwanto mengatakan, awal mula terbersit pemikiran melakukan ekspor adalah karena permintaan daun lompong atau talas kering di luar negeri yang cukup tinggi.

“Melihat hal tersebut, kami kemudian menanggapi. Kami komunikasi dan ternyata di Indonesia bahan baku lompong atau talas sangat melimpah ruah. Kami kemudian melakukan penanaman agar permintaan ekspor terpenuhi,” kata Hendy seperti dikutip Ayosemarang.com.

Menurut Hevearita ekspor kali ini merupakan ekspor perdana yang dilakukan CV Dian Pratama setelah sebelumnya berhasil melakukan dua kali ekspor daun lompong kuning atau talas. Total ada 3,6 ton daun talas kering yang diekspor ke Australia.

“Ini potensi yang luar biasa, karena selama ini tanaman lompong atau talas ini kan hanya umbi-umbian yang dianggap gulma. Namun ternyata memiliki potensi luar biasa,” ujar Mbak Ita.

Ia menjelaskan jika dalam penanaman daun lompong ini tidak perlu pemeliharaan yang susah. Tanaman ini perawatannya mudah dan tidak ada masa habisnya. Seperti halnya tanaman pisang, petani cukup melakukan penanaman pertama, kemudian akan berkembang biak dan tumbuh terus menerus dan siap diambil daunnya.

Sedangkan untuk waktu penanaman lompong hanya membutuhkan waktu tiga bulan untuk penanaman awal dan seterusnya hanya membutuhkan waktu 40 hari.

“Petani sangat diuntungkan, karena harga jualnya saja antara Rp 15 ribu – Rp 18 ribu per kg dan 1 kgnya berisi 10 helai daun talas kering . Petani tidak melakukan perawatan khusus untuk budidaya lompong ini,” jelas Mbak Ita.

Melihat potensi tersebut Mbak Ita ingin mengembangkan sektor pertanian tanaman lompong atau talas di kota Semarang.

“Budidayanya sangat gampang, untuk penanaman di lahan satu hektar bisa ditanami 20 ribu tanaman lompong, dengan satu tanaman bisa terdiri sekitar 5 helai daun. Ini bisa dikembangkan dalam rangka masa pandemi masih ada sehingga UMKM kita bisa ekspor dan bisa naik kelas,” lanjutnya.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Ayosemarang.com

Comments
Loading...