Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Meski Kalah, Manchester United Tetap Mendapatkan Pujian

Edinson Cavani kecewa.(dailymail.co.uk)

MURIANEWS, Gdansk- Tim Manchester United yang sebelumnya lebih difovoritkan di Final Piala Liga Europa, kalah secara menyakitkan dari Villareal. Pada pertandingan Kamis (27/5/2021) dinihari tadi, di Gdansk, Polandia, mereka kalah 10-11 dalam drama adu pinalti.

Ole Gunnar Solskjaer, beberapa jam sebelum pertandingan merujuk bahwa MU pernah membuat sejarah dramatis di Final Champions 1999. Drama mencekam ini terulang di Gdansk saat melawan Villareal. Namun kali ini, MU berada di pihak yang kalah.

Gerard Moreno memberi Villarreal keunggulan mengejutkan pada menit ke-29 sebelum United bangkit kembali melalui Edinson Cavani. Namun MU gagal menangkap momentum, dan kalah secara dramatis dalam adu tendangan pinalti yang berkesudahan 10-11, untuk Villareal.

Kiper asal Spanyol, David de Gea, gagal menyelesaikan tendangan pinalti terakhir mereka. Kegagalan MU ini tentu saja menjadi pukulan berat, terutama bagi Solskjaer, karena ini bisa menjadi gelar pertama yang dipersembahknya untuk MU sebagai pelatih.

Paul Scholes, mantan pemain MU, menyatakan tak menduga permainan MU seperti itu saat menghadapi Villareal. Menurutnya MU bermain tidak sebaik seperti biasanya. Namun demikian ia menilai sudah ada banyak kemajuan yang didapatkan MU sejak ditangani Ole Gunnar Solskjaer.

“Secara keseluruhan sudah ada kemajuan. Tetapi apakah hasil ini akan mengecewakan mereka? Ini hampir menjadi hal yang diterima. Dari sudut pandang Ole, dia telah membuat kemajuan, tetapi klub ini berharap dapat memenangkan trofi,” ujar Scholes, usai pertandingan.

“Jika hal itu terjadi dalam beberapa tahun ke depan, dan tetap tidak ada gelar, Ole mungkin akan memiliki masalah. Namun kali ini, tidak ada tuntutan di sana, di mana dia harus menang,” ujar Scholes memberi pembelaan untuk Ole yang pernah menjadi rekan timnya di MU dulu.

Beberapa pemain, seperti Bruno Fernandes dan Edinson Cavani, menurut Scholes bisa saja tidak senang dengan hasil ini. Mereka terlihat sangat kecewa. Nanun yang lain terlihat dapat menerima. Bahkan dari sang manajer.

“Mereka telah menjadi klub yang bagus,” pujinya.

Mantan rekan setim Scholes di United, Rio Ferdinand, juga memberikan penilaian yang sama. Hasil yang diraih MU kali ini menurutnya tidak perlu disesali berkepanjangan. MU kalah karena mungkin kurang sedikit beruntung. Namun mereka sudah mulai membangun budaya kemenangan.

“Jika Anda melihat secara keseluruhan, mereka meningkat jika dibandingkan pada musim lalu, dan ini adalah kesempatan untuk membentuk bagian dari budaya kemenangan,” ujarnya.

Pertandingan melawab Villareal ini menurut Ferdinand, mungkin bisa disebut sebagai pertandingan ‘tes asam’, dan timnya gagal. Menurutnya, Ole sudah mencoba menciptakan lingkungan untuk membuat timnya bisa situasi. Namun, mereka tidak menyelesaikan pekerjaannya. Menjadi brutal, dan itu adalah kegagalan.
“Mereka tidak bisa melewati batas. Semifinal musim lalu, sekarang mereka harus ke final tetapi mereka tidak bisa melewati batas untuk memenangkan trofi. Biasanya Anda tidak diberi waktu. Mereka sekarang berada dalam posisi di mana mereka harus mengubah final menjadi trofi,” tambah Ferdinand.

Setelah finis kedua di Liga Inggris, Setan Merah diharapkan menutup musim mereka dengan sukses di Final Liga Europa. Namun, kembali Unai Emery yang memiliki pengalaman hebat di Liga Europa kembali menunjukan ‘sihirnya’.

Kemenangan Villareal di Liga Europa ini membuat Unai Emery menjadi pelatih yang sudah 4 kali meraih gelar Liga Europa. Sebelumnya Emery meraih gelar ini tiga kali beruntun bersama Sevilla.

Penulis: Budi erje
Editor: Budi erje
Sumber: Dailymail.co.uk

Comments
Loading...