Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Ikhtiar Desa Tumpangkrasak Kudus Lawan Kasus Covid-19 yang Melambung Tinggi

Petugas Desa Tumpangkrasak tengah menyemprotkan cairan disinfektan di aula desa sebelum penyerahan BLT DD, Selasa (25/5/2021). (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus kini tengah melonjak tajam usai libur Lebaran beberapa waktu lalu. Kenaikannya bahkan mencapai 400 persen lebih.

Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, titik terendah kasus konfirmasi di yang tercatat sebelum libur Lebaran adalah sebanyak 60 kasus. Kemudian mulai meningkat dan mencapai angka 569 hingga Selasa (25/5/2021) hari ini.

Jumlah tersebut, dimungkinkan masih merangkak naik beberapa hari ke depan.

Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus sendiri, kini tengah melakukan kajian untuk mencari penyebab melambungnya kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus.

Dugaan sementaranya, adalah rendahnya kedisiplinan pasien isolasi mandiri di rumah. Sehingga pada akhirnya banyak dari keluarga pasien ikut tertular hingga menimbulkan klaster keluarga.

Selain itu, penularan dari pemudik yang masuk Kudus juga tengah diselidiki.

Salah satu desa dengan tingkat kenaikan kasus tinggi pascalebaran di Kudus adalah Desa Tumpang Krasak , Kecamatan Jati, Kudus.

Data dari desa, dari bulan Januari hingga 25 Mei ini, ada sebanyak 108 warga Tumpangkrasak yang positif Covid-19.

“Kenaikan kasus bisa dibilang tinggi, yang sebelumnya tak ada kini jadi ada. Beberapa waktu lalu ada 26 orang, kemudian sembuh 21 orang dan saat ini tersisa tiga,” ucap Kepala Desa Tumpangkrasak  Sarjoko, Selasa (25/5/2021).

Penyemprotan cairan disinfektan oleh pihak Desa Tumpangkrasak Kudus usai empat guru SD 1 Tumpangkrasak terpapar Covid-19. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

Baru-baru ini saja, kata dia, ada dua warganya yang meninggal dengan status positif Covid-19. Selain itu juga ada empat guru di SD Tumpangkrasak yang positif Covid-19. Sehingga Satgas Penanganan Covid-19 desa kembali bergerak intens kembali.

“Sebelum lonjakan ini kami memang sedikit mengendurkan kegiatan penyemprotan disinfektan, namun tetap kami gencarkan edukasi penerapan protokol kesehatannya,” sambung dia.

Pihak Satgas Penanganan Covid-19 desa, lanjut dia, kini mulai menggencarkan kembali penyemprotan disinfektan dan pemantauan-pemantauan aktikfvtas masyarakat di desa guna mencegah kerumunan.

“Kami berupaya semaksimal mungkin untuk memutus rantai penularan Covid-19 di desa kami,” kata dia.

Apabila di kemudian hari ditemukan warga yang positif, Sarjoko memastikan desa akan turut andil dalam penanganannya. Baik pasien isolasi mandiri maupun pasien yang membutuhkan perawatan.

“Ketika warga kami butuh perawatan tentu kami lewat bidan desa akan berafiliasi dengan rumah sakit rujukan untuk mencarikan kamar,” sambung dia.

Sementara untuk warganya yang menjalankan isolasi mandiri, kata Sarjoko, akan disuplai kebutuhan pokok lima hari sekali. Seperti beras, minyak, mi instan, dan susu.

“Kami juga turut memantau kondisi mereka per harinya, waspada jika memburuk dan membutuhkan rujukan,” ungkapnya.

Sementara untuk pemulihan ekonomi, pihaknya memfasilitasi warganya yang ingin berjualan di Pasar Krempyeng tiap sepekan sekali. Hanya, karena kenaikan kasus tengah meninggi, maka sedikit dibatasi kuotanya.

“Kami siapkan merepa tempat dan waktu untuk berjualan, harapannya ya ada perputaran ekonomi di sana untuk pemulihan ekonomi warga,” terangnya.

Sarjoko menambahkan, pihaknya juga mendorong adanya perputaran kebutuhan pokok antartetangga. Sehingga tak hanya penguatan ekonomi, penguatan kebutuhan pokok juga bisa tercapai antarsesama warga.

“Semisal ada warga yang punya lauk pauk atau sayuran bisa saling bertukar dengan tetangga lainnya, ya ditukar beras, gula atau lainnya, kami dorong untuk saling menguatkan antarsesama warga,” tandasnya.

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...