Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Dewi Persik Manggung dalam Hajatan di Kudus Saat Corona Melonjak, Warga: Tidak Adil Bagi Kami

Tangkapan layar video Dewi Persik saat menggung di Kudus. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – Jagad maya dihebohkan oleh acara hajatan di Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Sabtu (22/5/2021) lalu yang mengundang artis ibu kota Dewi Persik.

Kehadiran Dewi Persik menjadi sorotan lantaran saat pelaksanaan terlihat protokol kesehatan tak diterapkan dengan baik. Sementara di Kabupaten Kudus, saat ini kasus corona tengah mengalami lonjakan tajam.

Sontak hal ini membuat warga merasa tidak diperlakukan dengan adil. Di sektor wisata misalnya, tempat wisata di Kudus ditutup mulai hari Minggu, (23/5/2021) hingga waktu yang belum ditentukan.

Penutupan dilakukan sampai dengan adanya hasil evaluasi perkembangan situasi lebih lanjut dari Satgas Covid-19 Kabupaten Kudus. Hal ini berdampak bagi pedagang di area tempat wisata.

Lalu, Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Balai Jagong, Kudus juga tidak diperbolehkan berjualan per Senin (24/5/2021) kemarin.

Hal serupa juga diterapkan di Terminal Bakalan Krapyak. Diketahui Terminal Bakalan Krapyak juga ditutup sejak Minggu, (23/5/2021). Praktis hal ini berdampak bagi pedagang yang berjualan di area Terminal Bakalan Krapyak.

Baca: Bupati Kudus Perintahkan Keluarga yang Datangkan Dewi Persik Diswab Antigen

Salah seorang pedagang yang berjualan di area Terminal Bakalan Krapyak, Agustinus mengaku kebijakan yang dirasa tidak berpihak pada rakyat kecil. Menurutnya, seharusnya semua diperlakukan sama dan adil.

“Pastinya yang enggak adil. Istilahnya kami ini rakyat kecil. Disuruh ini itu hanya manut. Tapi mereka yang punya uang dan punya nama kok tetap bisa menggelar acara besar seperti itu saat pandemi,” katanya, Selasa (25/5/2021).

Tanggapan lainnya datang dari pedagang di area Terminal Bakalan Krapyak, Sukadar. Dia bahkan harus jual cincin milik istrinya untuk makan sehari-hari. Hal itu dilakukan lantaran kiosnya di Terminal Bakalan Krapyak ditutup.

“Saya dengar soal Dewi Persik yang di Kudus itu. Kalau dibilang hanya sebagai undangan dan tidak dibayar kok enggak mungkin. Lha transportasinya saja pasti mahal. Tidak mungkin gratisan. Sedangkan kami jualan tidak boleh. Hal seperti ini kan tidak adil bagi kami,” ujarnya.

Baca: Soal Dewi Persik Manggung di Kudus, Kuasa Hukum Tuan Rumah Angkat Suara

Hal yang sama juga disampaikan oleh pemilik penginapan di area Terminal Bakalan Krapyak, David Rizqiawan. Menurutnya hal tersebut tidak adil baginya. Apalagi penginapannya juga diminta untuk tak beroperasi sementara.

“Yang jelas tidak adil. Penginapan saya diminta tutup. Tapi rakyat kecil cuma bisa manut. Kalau katanya Dewi Persik tidak bayaran ya tidak mungkin. Apa ya tidak beli bensin dan sebagainya. Enggak percaya kalau tidak dibayar,” ujarnya.

Baca: Ruang Isolasi Covid-19 di RSUD dan RS Mardi Rahayu Kudus Mulai Sesak, Sempat Terjadi Antrean di IGD

Slamet Riyadi, kuasa hukum penyelenggara acara menyebut jika kehadiran Dewi Persik dalam acara tersebut bukan sebagai pengisi acara, akan tetapi sebagai tamu undangan biasa.

Menurutnya, Dewi Persik datang sebagai relasi kliennya. Disebutkan, awalnya penyelenggara menyangka Dewi Persik tidak bisa hadir dalam undangan tersebut.

“Dikira tidak bisa hadir, makanya kami tidak mempersiapkan kehadiran Mbak Dewi. Acara kami sudah selesai jam dua siang, dan tamu sudah pulang. Dewi Persik belakangan baru hadir sekitar jam empat sore, kemudian menyumbang lagu atas kemauannya sendiri, ” jelasnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...