Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Jelang Final Piala Champions, Moment Saat City Gagal Raih Tiket Ke Liga Champions Kembali Dikenang

Bapak dan anak, Garry dan Harisson Smith, pendukung setia Man City, usai timnya dikalahkan Tonttenham pada Mei 2010. (manchestereveningnews.com)

MURIANEWS, Manchester- Dalam sepuluh tahun terakhir, Manchester City menjelma menjadi kekuatan sepak bola di Eropa. Dari sebelumnya hanya merupakan ‘Tim Tetangga yang berisik’ bagi Manchester United, kini mereka adalah warna utama di kota Manchester.

Setelah perhelatan liga-liga sepak bola di Eropa berakhir, maka kini Piala Eropa menjadi event yang paling ditunggu publik sepak bola di seluruh dunia. Partai puncak akan mempertemukan dua tim Inggris, Manchester City Vs Chelsea.

City, kali ini lebih diunggulkan dari beberapa aspek dibandingkan Chelsea, dalam perebutan Piala Champions yang akan dihelat di Porto, Portugal, 29 Mei 2021 nanti. Namun demikian, sejarah mereka pernah mencatat, betapa pilu-nya mereka dan para pendukungnya, saat gagal untuk pertama kalinya mendapatkan tiket ke Liga Champions.

Kisah ‘kegagalan’ mereka saat berusaha meraih tiket Liga Champions pada 2010, kini kembali dikenang. Saat itu, Mei 2010, untuk pertama kalinya mereka berada sangat dekat dengan Liga Champions.

Dengan dua pertandingan sisa Liga Inggris, mereka dihadapkan persaingan dengan Tottenham Hotspur ketika itu. City butuh kemenangan dari Tonttenham untuk bisa menjaga peluang mereaka bisa berlaga di Liga Champions untuk pertama kalinya.

Saat itu, Manchester City ditangani oleh Roberto Mancini, sementara Tottenham ditangani Harry Redknapp. City juga sudah diperkuat Carlos Tavez, Pablo Zabaleta dan Vincent Kompany. Namun sayang, gol yang tidak terlalu indah dari Peter Crouch pada menit ke-82 di pertandingan yang berlangsung di London Timur itu, mengubur impian mereka.

City gagal mewujudkan keinginannya untuk bisa berkompetisi di kancah Eropa. Para pendukung City yang sempat ‘optimis’ sejak pembaharuan yang dilakukan Sheik Mansour, harus kembali ke ‘rutinitas’ tenggelam dalam perasaan mereka.

Usai pertandingan itu, ada dua pendukung Manchester City yang tidak segera meninggalkan stadion karena kesedihan mereka. Gary Smith dan anakya Harisson Smith, dua pendukung City itu, tetap di kursinya di tribun Colin Bell di blok 122.

Gary Smith, tampak jelas berada dalam situasi kewalahan dengan keputusasaan dan frustrasi. Pendukung setia Manchester City ini mencoba menghibur putranya yang saat itu berusia 12 tahun.

Foto bapak dan anak pendukung Mancheter City ini, keesokan harinya dimuat di berbagai media di Inggris, termasuk Manchester Evening News (MEN). Secara lugas, foto ini merangkum semua kesedihan yang dirasakan seluruh pendukung Manchester City.

Kini bersejarah itu kembali dimunculkan oleh MEN, menjelang tampilnya Manchester City di final Piala Champions Eropa Vs Chelsea. Kenangan ini tentu saja diharapkan bisa memberikan motivasi bagi para pemain dan pendukung mereka untuk final itu.

“Foto itu keluar, foto itu dimasukkan ke dalam sampul dalam MEN, lalu Peter Spencer (Jurnalis MEN) menulis sedikit tentang itu,” kenang Smith mengenang kembali moment itu.

“Di bagian bawahnya, dia menyertakan sebaris tulisan, ‘jika Anda tahu siapa orang-orang ini’ dan kemudian jelas telepon saya menjadi pisang. Kapan pun sesuatu yang baik atau buruk terjadi, foto itu tampaknya muncul,” tambahnya lagi.

Foto itu memang menangkap gambar tentang bapak dan anak pendukung City yang sedih, dan tengah mencoba untuk menerima apa yang baru saja menjadi kenyataan. Namun demikian, setelah itu ada banyak hal positif yang kemudian terjadi. Hal ini diakui oleh Smith, pada saat ini, setelah 10 tahun kejadian itu terjadi.

“Peter Spencer menelepon saya, saya kemudian berbicara dengan klub. Kemudian klub mengatur agar Mike Summerbee mengunjungi sekolah putra saya dengan foto yang ditandatangani oleh Roberto Mancini,” kata Smith.

“Kemudian City mengatur agar saya membawa Harrison dan dua anak laki-laki saya yang lain ke permainan pilihan kami pada musim berikutnya dengan keramahan penuh dan bertemu para pemain di ruang ganti sebelum pertandingan,” lanjutnya.

Penggemar City dalam kurun waktu yang lama, berpuluh tahun memag akrab dengan ‘keterpurukan’ sebelum akhirnya berubah setelah klub diambil alih Mansour. Kini Manchesrer City telah menjadi salah satu kekuatan baru.

“Anak laki-laki saya masih muda, sekarang dia berusia 22 tahun, dia berusia 12 tahun saat itu. Saat itu saya benar-benar menghiburnya dan saya cukup yakin dengan perkembangan klub,” Smith kembali memberi kesan.

Saat menghibur anaknya ketika itu, Smith mengatakan agar anaknya tidak khawatir. Dengan jumlah uang yang masuk ke klub, dan pembaharuan yang terjadi, waktu terbaik akan ada di depan Manchester City. Kini setelah 10 tahun, situasi itu pelan-pelan mulai terwujud.

Meskipun kekalahan melawan Tottenham pada Mei 2010 telah membuat debut Manchester City di Liga Champions musnah, kini pembaharuan yang dilakukan Sheikh Mansour telah merubah City. Pembaharuan itu telah membawa klub dan pendukungnya ke tempat-tempat yang tidak pernah diimpikan sebelumnya.

Smith sendiri, seperti yang dikatakannya kepada MEN, menyatakan memiliki tiket musiman di City selama 39 tahun. Sepeti ribuan pendukung setia dan berdedikasi lainnya, Smith telah mengikuti City melalui tahun-tahun penuh gejolak, menanggung pasang surut yang brutal dalam mendukung klub selama beberapa dekade.

Penggemar yang saat ini berusia 50 tahun ini juga dengan khidmat melakukan perjalanan ke pertandingan ketika klub berada bertanding. Anak laki-lakinya yang kini berusia 22 tahun, bisa dikatakan telah dibesarkan dalam perjalanan ke Lincoln, Bradford, dan Wycombe.

Ini berbeda dengan yang dialami oleh para pendukung Manchester City era sekarang, yang bisa menikmati malam-malam di Eropa dengan kemewahan. Mereka kini bisa terbang ke ke Dortmund, Paris, dan Porto.
“Mengerikan, tapi humor semacam itulah yang sebenarnya menyenangkan. Pergi ke Lincoln, pergi ke York, pergi ke Wycombe, ketika kita kalah, kita kalah 2-1 di Lincoln,” renungnya.

Pada tahun 1980-an, Smith mengaku banyak mengikuti pertandingan tandang Manchester City. Namun giliran berhasil menang 4-2 melawan Bradford, dirinya malah tidak bisa menonton secara langsung.

“Saya telah menghadiri setiap pertandingan tandang ketika kami dikalahkan, tetapi saya melewatkan pertandingan itu, ketika kami mengalahkan Bradford, karena saya ketinggalan kereta di stasiun Victoria!,” katanya sambil tertawa.

Kini Smith berharap, agar sejarah City dicatat tidak dimulai hanya sejak 10 tahun lalu. Namun sejarah City harus dimulai di Maine Road, ketika 40.000 pendukung City naik bus atau kereta untuk pergi dan mendukung timnya.

Sheikh Mansour telah membawa City ke level lain sejak dia mengambil alih. Tetapi sejarah adalah sejarah, yang disukai para pendukung sejati City. Hal ini harus dipertahankan sebagai warisan manajer dan pemain mereka sebelumnya.

“Dalam 10 atau 20 tahun lagi, akan ada lebih banyak penggemar City, yang ikut-ikutan, tapi itulah yang terjadi karena anak-anak mendukung tim sepak bola yang sukses,” cetus Smith.

Dalam usianya yang sudah 50 tahun, Smith tetaplah pendukung setia Manchester City. Pria ini mengaku sudah memesan tiket penerbangannya ke Portugal. Hal ini menjadi bagian perjalanan terpanjangnya sebagai pendukung Manchester City.

Smith sudah sangat lama menunggu. Dimulai sejak moment gagalnya City lolos ke Liga Champions melawan Tottenham pada tahun 2010, hingga akhirnya bisa bertanding di final Piala Champions. Sungguh perjalanan yang luar biasa baginya.

Penulis: Budi erje
Editor: Budi erje
Sumber: Manchestereveningnews.com

Comments
Loading...