Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Terminal Bakalan Krapyak Kudus Kembali Ikut Ditutup Akibat Corona Melejit, Pedagang Menjerit

Pedagang di area Terminal Bakalan Krapyak, Sukadar mengecek kiosnya yang harus ditutup karena teminal tak beroperasi. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Terminal Wisata Bakalan Krapyak, Kudus ditutup sejak Minggu (23/5/2021) lalu. Terminal ini ditutup seiring penutupan tempat wisata imbas melinjaknya kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus.

Penutupan ini berdampak bagi pedagang kaki lima (PKL) di Kawasan Terminal Bakalan Krapyak.

Pengamatan MURIANEWS, area kios PKL di sebelah barat dan selatan Terminal Bakalan Krapyak terlihat kosong. Beberapa kios terlihat tutup.

Salah seorang pedagang yang berjualan di Terminal Bakalan Krapyak, asal Desa Gribig RT 04, RW 05, Sukadar mengeluh dengan adanya penutupan di area terminal. Sebab, dia tidak mendapatkan penghasilan.

“Bingung kalau ditutup seperti ini. Enggak tahu mau bagaimana lagi. Soalnya penghasilan ya dari sini. Kalau tidak jualan enggak bisa makan,” katanya, Selasa (25/5/2021).

Bahkan, Sukadar mengaku beberapa hari lalu sempat jual cincin perhiasan milik istrinya untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Dia mengakui, dagangannya di kios mungkin tidak bakal kedaluwarsa. Sebab dia berjualan busana muslim. Kendati begitu, menurutnya jika terus ditutup, model produk busana muslimnya bakal ketinggalan zaman, dan tak laku dijual.

“Kalau saya inginnya itu dibuka dengan protokol kesehatan. Jadi kami orang kecil tetap bisa jualan,” imbuh pria lima anak itu.

Hal senada disampaikan oleh pedagang di luar area Terminal Bakalan Krapyak. Namanya Agustinus. Dia berjualan makanan ringan dan rokok. Lokasinya di sebelah utara terminal.

“Kalau seperti saya masih bisa buka karena jualannya di luar terminal. Tapi ya tetap saja pendapatan turun 50 persen,” akunya.

Ia menyebut, selepas Lebaran seharusnya ramai pembeli. Sebab, ada rombongan peziarah yang datang. Namun, karena saat ini terminal Bakalan Krapyak ditutup, dagangan yang dijualnya tak seramai saat ada peziarah.

“Harusnya momen saat ini itu biasanya ramai. Karena biasanya setelah lebaran masih pada punya uang dan berziarah. Sehingga dagangan kami juga dibeli. Tapi kalau ditutup seperti ini ya sepi,” sambungnya.

Jika kondisi sedang ramai, pria dua anak itu dapat mendapatkan pendapatan bersih Rp 100 ribu dalam sehari. Namun, kondisi saat ini membuatnya hanya mengantongi Rp 50 sampai Rp 60 ribu sehari.

“Inginnya ya tetap dibuka dengan protokol kesehatan. Lha seperti stasiun kereta api saja kan masih pada buka. Kenapa kok di sini enggak,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...