Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Pandemi Tak Bikin Ciut Nyali untuk Lestarikan Batik Khas Kudus

Pengelola Omah Batik Ku menunjukkan salah satu batik Kudus yang terus dilestarikan. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Pandemi Covid-19 tak membuat pembatik di Kudus berhenti berkarya. Ini ditunjukkan oleh Omah Batik-Ku yang terus berupaya melestarikan batik khas Kudus babaran Kedung Paso.

Penanggung Jawab Produksi Omah Batik Ku, Muhammad Fadloli saat ditemui MURIANEWS di Desa Langgardalem RT 04, RW 01, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus menjelaskan tentang upaya untuk melestarikan batik Kudus.

“Walaupun masih pandemi kami tetap berkarya. Dan kebetulan masih ada yang pesan. Kebanyakan pesanan untuk batik Kudus babaran Kedung Paso,” katanya baru-baru ini.

Saat ini batik Kudus babaran Kedung Paso masih ramai pesanan. Batik tersebut lumrah dipakai atau digunakan sebagai seserahan pernikahan. “Alhamdulillah masih ada yang pesan walaupun saat ini masih pandemi,” sambungnya.

Fadloli melanjutkan, batik Kudus babaran Kedung Paso memang diminati. Sebab, menurutnya warna yang terdapat di batik berwarna-warni.

“Batik babaran Kedung Paso khasnya warna-warni. Biasanya ada faunanya. Seperti ini ada burung Meraknya. Atau orang biasa menyebut Merak ketekuk (Merak kelipat). Karena ketika dipakai, burung Meraknya kelipat. Selain itu ada juga motif Kapal Kandas yang juga warna-warni,” terangnya.

Ke depannya, Fadloli akan terus melestarikan batik tulis. Menurutnya, membuat batik itu harus asli.

“Terkadang ada pesanan batik printing. Tapi mohon maaf saya tolak. Karena menurut saya batik itu ya harus asli. Kalau hanya printing menurut saya bisa membuat pembatik menjadi malas,” ujarnya.

Fadloli berharap tradisi melestarikan batik ke depannya bisa terus berlanjut. Sehingga batik tetap lestari.  “Selain itu bisa mewujudkan batik Kudus sebagai warisan,” harapnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...