Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Dijerat Pasal Berlapis, Dua Oknum Polisi Penjual Senjata ke KKB Papua Dituntut 10 tahun Penjara

Polisi saat merilis enam pelaku terlibat kasus penjualan senjata api laras panjang dan ratusan peluru ke Papua. (ANTARA/Daniel Leonard)

MURIANEWS, Jakarta – Dua oknum polisi bernama San Herman Palijama (34) dan Muhammad Romi Arwanpitu (38) yang bertugas di Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease dituntut 10 tahun penjara.

Tuntutan tersebut terkait kasus penjualan senjata dan amunisi ke teroris kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua. Keduanya pun dijerat pasal berlapis.

“Meminta majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menyatakan kedua terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 1 ayat (1) UU Darurat Nomor 12/1951 tentang mengubah Ordonnantie Tijdelikke Bijzondere Strafbepalingen (STBL 1948 No 17) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Pasal 338 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,” kata JPU Kejaksaan Negeri Ambon, Eko Nugroho, seperti dilansir Detik.com, Jumat (21/5/2021).

Tuntutan jaksa disampaikan dalam persidangan yang dipimpin ketua majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Ambon Pasti Tarigan dan didampingi dua hakim anggota.

Dalam persidangan itu, jaksa juga menuntut empat terdakwa lainnya yang merupakan warga sipil dan terlibat dalam kasus penjualan senpi dan amunisi itu secara bervariasi.

Terdakwa Sahrul Nurdin (39) dituntut 12 tahun penjara, sementara Ridwan Mohsen Tahalua (44), Handri Morsalim (43) ,dan Andi Tanan (50) dituntut 8 tahun penjara.

Enam terdakwa ini dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama menerima, menyerahkan, membawa, menguasai, menyimpan, menyembunyikan, mempergunakan senjata api dan amunisi tanpa hak sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 1 ayat (1) UU Darurat Nomor 12/ 1951.

Adapun hal yang memberatkan para terdakwa dituntut penjara adalah perbuatan mereka meresahkan masyarakat, dan senjata-senjata dan amunisi tersebut digunakan untuk merongrong negara.

Kemudian terdakwa Sahrul Nurdin pernah dihukum dan menjadi pelaku utama dari peredaran senjata api itu.

Selanjutnya San Herman Palijama, oknum polisi, pernah menjual senjata laras panjang sebanyak dua kali ke Papua, sedangkan Muhammad Romi Arwanpitu, yang juga polisi, pernah dihukum dalam kasus narkotika.

Sedangkan yang meringankan adalah para terdakwa berlaku sopan di persidangan dan mengakui semua perbuatannya.

JPU dalam dakwaannya menyebutkan perbuatan para terdakwa terjadi sejak 2020 dan 2021 di beberapa tempat, yaitu pangkalan ojek Desa Batu Merah, Pasar Arombai Mardika, Pasar Mardika Ambon, bawah Jembatan Merah Putih, dan kawasan Kapaha, Kecamatan Sirimau, Ambon.

Para terdakwa saat itu bersama-sama dengan Welem Taruk (terdakwa dalam berkas perkara tersendiri yang diajukan penuntutan secara terpisah/splitching) dan Atto Murib (DPO) melakukan atau turut serta sengaja menerima, menyerahkan, membawa, menguasai, menyimpan, menyembunyikan, mempergunakan senjata api dan amunisi tanpa hak.

Peristiwa itu berawal ketika Murib, yang merupakan pemilik tambang emas di Km 54 Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, berkenalan dan meminta Taruk, yang berasal dari Ambon, mencari senjata api dan amunisi untuk dibeli.

Permintaan pencarian senjata api dan amunisi di Ambon diminta Murib karena Ambon merupakan daerah bekas kerusuhan atau konflik.

Atas permintaan itu, Taruk kemudian berkenalan dengan terdakwa Sam, oknum polisi untuk menanyakan senjata rakitan kepadanya.

Mendengar permintaan Taruk, Sam kemudian menyampaikan dia akan mencari senjata api rakitan. Ia kemudian menghubungi Iwan Touhuns, warga Rumah Kai yang masih DPO, untuk mencari senjata rakitan.

“Iwan Touhuns menyampaikan kepada terdakwa 2 (Sam) bahwa ia akan mengecek ke iparnya terlebih dahulu dan apabila ada maka ia akan menghubungi terdakwa 2,” kata penuntut umum.

Pada Oktober 2020, Iwan menghubungi Sam karena ada senjata api rakitan jenis SS-1 (senjata organik alat negara) yang bisa dibeli seharga Rp 8 juta. Mengetahui hal itu, Sam kemudian pergi ke Desa Rumah Kai untuk melihat senjata serbu perorangan itu.

Setelah memastikan senjata itu ada dan berfungsi, Sam langsung menghubungi Taruk untuk memberitahukan bahwa dia sudah mendapatkan senjata api rakitan seharga Rp 20 juta.

Esok harinya, Taruk datang dengan menumpangi sebuah mobil berwarna hitam. Ia menunggu Sam. Sam kemudian menyerahkan senjata api rakitan setelah Taruk memberikan uang Rp 20 juta. Setelah menjual senjata api rakitan kepada Taruk, Sam kembali ke Desa Rumah Kai untuk membayar harga senjata tersebut yang dibeli dari Iwan sebesar Rp 8 juta.

“Pada Desember 2020 terdakwa dua kembali mendapatkan informasi dari Iwan bahwa ada senjata rakitan yang mau dijual dengan harga Rp 6 juta,” tambah Eko.

Mendapat informasi itu, Sam segera menghubungi Taruk. Ia kembali menyampaikan senjata api yang didapat harganya sama yaitu Rp 20 juta. “Saat itu Welem Taruk langsung transfer ke rekening terdakwa 2,” terangnya.

Setelah mendapatkan uang itu Sam berangkat ke Desa Rumah Kai bertemu Iwan. Ia lalu menyerahkan uang sebesar Rp 6 juta. Iwan lalu pergi mengambil senjatanya di Desa Kamariang.

Iwan kembali membawa senjata api rakitan jenis SS1 dan diserahkan kepada terdakwa II, selanjutnya dia membawa senjata tersebut ke rumahnya di Desa Pia, Saparua, lalu pada Januari 2021 Welem Taruk datang mengambilnya, dan membawa senjata lewat jalur Seram (menggunakan feri) menuju ke Papua.

Lebih lanjut disampaikan, pada Agustus 2020 di pangkalan ojek Lorgi Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Ambon, terdakwa Muhammad Romi Arwanpitu, oknum polisi, sebelumnya mendapatkan senjata api jenis pistol dari saksi Amirudin Lessy, oknum anggota TNI AU (diproses pidana militer).

Setelah mendapatkan pistol, Romi kemudian bertemu terdakwa Ridwan Mohsen Tahalua. Romi berbisik ke telinga Ridwan bahwa ada senjata api dan menawarkan untuk menjualnya.

“Ada senjata, bisa jual ini tidak? (sambil terdakwa Romi mengangkat baju dan menunjukkan pistol yang terselip pada pinggangnya),” kata jaksa.

Melihat pistol di samping pinggang Romi, Ridwan kemudian mengaku akan menjualnya. Romi yang mengaku pistol itu bekas konflik kemanusiaan lalu meminta untuk menjualnya seharga Rp 5 juta.

“Pistol itu kemudian dibawa ke Pasar Arumbai untuk ditawarkan ke Sahrul Nurdin (terdakwa I),” jelasnya.

Sahrul membeli pistol itu seharga Rp 5 juta, yang diserahkan secara bertahap. Uang itu kemudian diberikan kepada Romi, oknum anggota Polresta Ambon.

Selanjutnya, kata Eko, pada awal 2020 Handri Morsalim (terdakwa V) mempunyai senjata api laras pendek rakitan beserta satu amunisi yang sebelumnya milik mertuanya.

Handri kembali bertemu terdakwa Sahrul di Pasar Mardika dan menyampaikan memiliki senjata api. Sahrul lalu mendatangi rumah Handri untuk membeli senjata api laras pendek dan satu dus penuh amunisi seharga Rp 1 juta.

Kemudian pada November 2020, Andi Tanan (terdakwa VI) yang bersahabat dengan Welem Taruk (DPO), kemudian mencari saksi Milton Sialeky, oknum anggota TNI AD (diproses pidana militer).

Untuk yang pertama adalah pembelian 100 butir peluru kaliber 5,56 pada sekitar November 2020 bertempat di bawah Jembatan Merah Putih dengan harga Rp 500 ribu.

Pembelian kedua kalinya juga terjadi pada November 2020 atau satu minggu berselang dari pembelian yang pertama. Pembelian kedua bertempat di depan rental mobil Toking. Saat itu saksi Milton Sialeky menjual 100 butir peluru kaliber 5,56 dengan Rp 500 ribu kepada terdakwa VI.

Pembelian ketiga, yang terjadi pada sekitar Januari 2021, bertempat di depan Gereja Pantekosta di Lampu Lima Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, sekitar pukul 23.00 WIT. Saat itu Milton menjual 400 peluru kaliber 5,56 mm kepada terdakwa VI seharga Rp 1 juta.

Terdakwa VI membeli amunisi itu dari Milton menggunakan uang yang dikirim Atto Murib. Lalu terdakwa 6 bertemu dengan Welem Taruk untuk bertemu di depan Gereja Pantekosta pada sekitar bulan Januari 2021 pukul 22.00 WIT sesuai perintah Atto Murid untuk mengambil amunisi tersebut. Taruk datang menemui terdakwa VI dan mengambil amunisi tersebut untuk dibawa pergi.

Saat ditangkap, Welem Taruk kedapatan membawa barang bukti di antaranya satu senjata api laras pendek asli jenis revolver, tujuh peluru kaliber 0,38, 600 peluru kaliber 5,56 mm, senjata api laras panjang, dan magasin.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Detik.com

Comments
Loading...