Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Cerita di Balik Batik Legendaris Gendoro-gendiri yang Dulu Harus Dibuat di Lasem dan Kudus

Batik gendoro-gendiri yang diproduksi ulang oleh omah Batik Kudus. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Omah Batik-Ku yang terdapat di Desa Langgardalem RT 04, RW 01, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus membuat produksi ulang batik gendoro-gendiri. Hal itu sebagai bentuk melestarikan batik Kudus tempo dulu.

Ditemui MURIANEWS, Penanggung Jawab Produksi Omah Batik-Ku, Muhammad Fadloli membeberkan cerita unik tentang batik ini. Menurut Fadloli, batik gendoro-gendiri memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya batik tersebut harus dibuat di dua tempat, yakni di Lasem dan Kudus.

“Dahulu, salah seorang istri Sunan Kudus yang merupakan putri dari Sunan Bonang membawa batik gendoro-gendiri ke Kudus. Sebelumnya batik itu sudah diberi warna merah di Lasem. Karena warna merah di Lasem mudah didapatkan dari pewarna yang ada di alam,” katanya, Jumat (21/5/2021).

Menurutnya warna merah saat itu tidak dapat dilakukan secara alami di daerah Kudus. Karena perbedaan temperatur. Kecuali menggunakan pewarna kimia. Setelah bewarna merah, batik tersebut dibawa putri Sunan Bonang ke Kudus.

“Dibawa ke Kudus untuk diberi warna biru dan cokelat. Nah di sini saya beberkan kenapa batik ini cocok untuk digunakan sebagai seserahan maupun dipakai kedua mempelai pengantin,” terangnya.

Penanggung Jawab Produksi Omah Batik Kudus, Muhammad Fadloli menunjukkan batik Gendoro-gendiri. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

Batik gendoro-gendiri juga memiliki makna. Gendoro dimaknai sebagai mandala giri yang artinya lingkaran kehidupan. Sedangkan Gendiri memiliki arti gunung.

“Filosofi dari batik gendoro-gendiri itu manusia ingin meniru gunung. Dalam hal ini diharapkan pasangan yang menikah akan mengarungi kehidupan dengan pengharapan seperti gunung yang artinya rezekinya tinggi atau melimpah,” ujarnya.

Lalu, warna merah, biru, dan cokelat yang terpampang di batik gendoro-gendiri itu juga memiliki makna. Warna merah darah merupakan simbol kehidupan.

Sedangkan warna biru laut merupakan samudra. Bagi pasangan mempelai setelah menikah diibaratkan mengarungi samudra yang sangat luas. Warna cokelat yakni simbol tanah sebagai tempat bumi dipijak.

Di batik tersebut juga terdapat isen-isen wajikan. Bentuknya seperti wajik yang merupakan simbol arah. Di dekatnya ada motif bunga Seruni sebagai simbol panjang umur.

Selain isen-isen wajikan, batik gendoro-gendiri juga menampilkan isen-isen ukel atau kuncup daun. Kuncup daun yang digambarkan mekar itu merupakan simbol melanjutkan kehidupan dan terus berkembang.

Batik gendoro-gendiri itu mulai muncul di abad 16 sampai tahun 1980-an. Batik tersebut digunakan sebagai seserahan lamaran. Bahkan juga dikenakan kedua mempelai saat menikah.

“Yang laki-laki bisa digunakan sebagai sarung. Sedangkan yang perempuan sebagai jarik,” ujar Fadloli.

Di era saat ini, batik gendoro-gendiri sudah mulai penuh dibuat di Kudus. Pewarnaan merah menggunakan pewarna kimia. Harga sepasang batik gendoro-gendiri yang digunakan sebagai sarung dan jarik sejumlah Rp 7 juta. Masing-masing seharga Rp 3,5 juta.

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...