Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Tradisi Gantung Ketupat untuk Tolak Bala Masih Lestari di Kudus

Ketupat luar yang yang dipercaya syarat untuk tolak bala. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – Membuat ketupat saat H+7 Lebaran atau Lebaran Ketupat sudah menjadi tradisi yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat di Kabupaten Kudus. Selain disantap, ketupat ini juga digantung di beberapa bagian rumah, ada makna tersendiri dari tradisi tersebut.

Sebagian masyarakat memiliki kepercayaan dengan menggantung ketupat di depan pintu-pintu rumah hingga di kandang ternak, dengan harapan agar bisa terhindar dari bala atau bahaya.

Jenis ketupat yang digantungkan, tidak seperti ketupat pada umumnya, Kupat Luar namanya. Proses penganyaman dan bentuknya yang agak panjang menjadi pembeda dari ketupat-ketupat pada umumnya.

Sejarawan Kudus Sancaka Dwi Supani mengatakan, ketupat luar sudah menjadi tradisi masyarakat semenjak abad-ke 14 yang merupakan warisan leluhur sebelum masuknya Islam. Konon, ketupat luar digunakan sebagai sesaji yang memiliki bentuk berbeda dengan ketupat lain.

Kupat luar biasanya dipasang setahun sekali bebebarengan dengan momen Lebaran Ketupat. Ada yang memasangnya di depan pintu rumah, sudut pojok rumah, ada juga yang memasangnya di kandang-kandang ternak.

“Filosofi ketupat iku ngaku lepat (mengakui kesalahan), kupat luar itu ngluari, nyarati. Artinya seseorang itu sudah nyarati, (sudah tidak punya janji). Maksudnya dipasang kupat luar biar terlepas dari sambikolo (bahaya), atau tanda syukur dengan sang kuasa,” katanya, Rabu (19/5/2021).

Menurutnya kupat luar dulunya di beberapa daerah pedesaan  juga ada digantungkan di leher (dikalungkan) ke hewan-hewan ternak.  Setelah itu hewan ternak tersebut dikumpulkan di suatu tempat luas yang sering dinamai momen lebarannya hewan.

“Ya ada hewan sapi, kerbau, kambing. Di sekitar Kota Kretek yang pernah ada di Kawasan Patiayam di dua tempat. Namanya Bukit Wen dan Bukit Gecil,  itu biasanya bukan hewan dari Desa Terban saja, beberapa desa lain juga ikut datang.  Ada juga yang kupatnya itu buat pakan ternak,” jelasnya.

Selain itu, zaman dahulu saat wiwit mau memanen padi masyarakat juga menyertakan ketupat luar untuk syukurannya. “Cara orang kuno itu sesembahan untuk Dewi Sri, kata orang dulu itu Dewi Sri itu dewa pangan.  Tapi kita orang Islam itu ya rasa syukur kepada yang Kuasa Allah SWT, ” imbuhnya.

Terpisah, Penjual Janur Yono (60) mengatakan, Kupat Luar memang dipercaya sebagian masyarakat sebagai penolak bala saat digantungkan di depan rumah atau di kandang hewan ternak. Hingga saat ini ketupat luar juga masih dicari masyarakat.

“Yang tahu ya biasanya itu beli ketupat luar pas momen seperti ini, biasanya satu tahun sekali diganti.  Nenek moyang zaman dulu itu memang untuk ngluarin tolak balak. Bentuk dan harganya juga beda dengan ketupat biasa,  kalau ketupat biasa Rp 500 satu biji tapi kalau ketupat luar itu Rp 2.000 satu biji. Ini mulai buka tiga hari lalu sudah bisa jual 30 biji ketupat luar, ” pungkasnya.

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...