Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Tak Seramai Dulu, Penjual Janur di Kudus Tetap Cari Peruntungan di Momen Kupatan

Penjual janur yang berada di area depan Pasar Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – Jelang Lebaran ketupat atau tradisi kupatan Syawalan, penjual janur bermunculan di sejumlah kawasan di Kota Kretek.  Salah satunya, berada kawasan Pasar Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

Terlihat sejumlah penjual berjejer dengan menjajakan janur, hingga selongsong yang ditata dengan rapi. Meski tak ramai seperti sebelumnya, sejumlah penjual janur tetap mengais rezeki mengumpulkan pundi-pundi rupiah memanfaatkan momen Lebaran Ketupat.

Salah satu penjual janur di Pasar Megawon, Kaswati (43) mengatakan, permintaan janur ataupun klongsong ketupan serta lepet tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Sebelumnya,dalam satu hari dirinya bisa menghasilkan omset 300-400 ribu di momen seperti ini.

“Kalau tahun ini sekitar 200 ribuan sehari, itu sudah paling banyak,” katanya, Selasa (18/5/2021).

Penurunan tersebut lantaran semakin banyaknya penjual janur yang bermunculan saat momen Lebaran ketupat seperti ini.

“Saya jualan di sini sudah empat kali Lebaran ini, sekarang tambah banyak penjualnya. Karena di sini tempatnya juga enak strategis,” ungkap warga Desa Honggosoco, Jekulo, Kudus itu.

Selain itu dengan minat beli masyarakat yang cenderung menurun, mengingat jumlah pemudik saat ini juga berkurang. Biasanya, ketupat ataupun lepet juga dinikmati pemudik saat pulang ke kampung halaman.

Kaswati mengaku pasokan janur, didapatkannya dari wilayah Yogyakarta. Harganya sendiri bervariasi, satu ikat janur dibandrol dengan harga mulai Rp 5 ribu-Rp 10 ribu rupiah, tergantung kualitas janur tersebut.

“Kalau sudah jadi ketupat itu satu ikat Rp 10 ribu, kalau selongsong lepet satu ikatnya Rp 8 ribu. Memang harganya tak jauh beda dari janur, tinggal pembeli mau pilih yang mana,” ucapnya.

Sementara, salah seorang pembeli Niswatul Chusna (26) mengaku setiap tahunnya memang membeli janur untuk membuat ketupat dan lepet. Namun, di tahun ini jumlah yang dibelinya memang tak sebanyak tahun kemarin, lantaran tidak ada keluarga dari perantauan yang pulang.

“Dulu itu bisa buat 50-an lebih ketupat dan lepet, tahun ini ya tidak sampai segitu. Karena memang ada saudara yang tidak mudik,” pungkasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...