Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Keluh Kesah Nenek Penjual Janur di Kudus Jelang Lebaran Ketupat

Penjual janur, Sutami menjajakan dagangannya di area Pasar Doro, Kudus, Selasa (18/5/2021). (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Maraknya penjual janur untuk tradisi kupatan (Lebaran ketupat) berdampak bagi nenek 62 tahun di Kabupaten Kudus bernama Sutami. Pembeli dagangan nenek ini kini tak seramai dulu.

Ditemui MURIANEWS di Pasar Doro, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Sutami menjelaskan soal dagangan janurnya yang sepi. Pasalnya, saat ini sudah banyak pesaing. Utamanya penjual berusia muda.

Sutami sudah berjualan janur dan selongsong ketupat sejak Minggu (16/5/2021) lalu. Dia berjualan mulai pukul 05.30 WIB sampai 17.00 WIB. Rencananya, dia berjualan janur hingga Rabu (19/5/2021) besok.

Sampun katah saingane. Lha cah nom-nom yo saiki melu dodolan ngene. (Sudah banyak saingannya. Lha anak-anak muda sekarang ya jualan janur seperti ini),” katanya, Selasa (18/5/2021).

Menurut dia, penjualan janur lebih ramai tahun lalu jika dibandingkan tahun ini. Dia bercerita pada Minggu (16/5/2021) kemarin dia kulak 1.500 lembar janur. Tetapi hingga hari ini baru terjual 500 lembar saja.

Sutami merapikan janur yang dijualnya. Ia mengeluh penjualan di Lebaran Ketupat kali ini semakin sepi. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

Rinciannya, pada Minggu (16/5/2021) kemarin dia menjual 200 lembar janur. Kemudian, Senin (17/5/2021) Sutami menjual 300 lembar janur.

Menurutnya, saat ramai dia mampu menjual 1.500 lembar janur dalam sehari. Saat ini untuk menjual dengan jumlah tersebut dirasa sulit.

Senin wingi ya mung payu 300 lembar tok. (Senin kemarin ya hanya laku 300 lembar saja),” terangnya.

Satu ikat janur yang dijualnya itu sebanyak sepuluh lembar. Dia menjual dengan harga Rp 5 ribu. Nenek empat anak itu hanya mengambil keuntungan seribu rupiah saja. Sebab, harga sepuluh lembar janur saat kulak itu Rp 4 ribu.

Dodolane kawit Minggu. Iki mpun telung dino. Itungane ngeten ya sepi. Kupatane kan ya mulaine sesuk. Sesok paling tambah sepi. (Jualan sejak Minggu. Ini sudah tiga hari. Seperti ini ya sepi. Kupatan juga besok sudah mulai. Besok pasti tambah sepi),” ujarnya.

Sutami melanjutkan, jika dagangan janurnya masih tersisa banyak, dia berencana membuangnya. Sebab, menurutnya janur tersebut sudah tidak bisa dijual lagi seiring berakhirnya momen kupatan.

Nek mboten patu ya dibucal. Lha meh di nggo nopo nek mboten dibuak. Rugi nggih rugi. Nanging nggih pripun. Kalah saingan mbi sing nom-nom sing saged ider. (Kalau tidak laku ya dibuang. Lha mau dibuat apa kalau tidak dibuang. Rugi ya rugi. Tapi ya mau bagaimana. Kalah saingan dengan yang muda-muda yang bisa jualan muter),” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...