Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Berkah Idul Fitri, Penjual Janur di Blora Kais Rezeki di Masa Pandemi

Penjual Selongsong Ketupat di Pasar Blora. (MURIANEWS/NATHAN)

MURIANEWS, Blora- Tradisi Kupatan atau Syawalan, yang biasanya dirayakan pada H+7 Idulfitri membawa berkah bagi penjual janur (daun muda kelapa), di masa pandemi. Beberapa penjual janur di Blora mulai bermunculan di sejumlah pasar tradisional.

Sebagian besar janur diketahui dipasok pedagang dari luar daerah. Hal ini karena di wilayah Blora minim pohon kelapa akibat serangan hama wangwung (kumbang kelapa) sejak puluhan tahun terakhir.

Aminah, salah satu pedagang janur asli Blora mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan janur menjelang Idulfitri 1442 Hijriah dan tradisi kupatan dirinya membeli dari wilayah Kabupaten Rembang dan Cilacap.

“Saya membeli janur dari Rembang dan Cilacap, tapi gak berani banyak, kuatir tidak laku dan layu. Soalnya ini masih pandemi, tidak semua warga butuh janur,” katanya, di Blora, minggu (16/5/2021).

Untuk saat ini, harga eceren janur kelapa di pasar rakyat Sido Makmur Blora pada H+4 Lebaran 2021, satu ikat Rp20 ribu, berisi 50 helai janur.

“Sudah ada warga yang membeli untuk selongsong ketupat dan lepet, sehari rata-rata laku 5 ikat,” kata aminah.

Selain jualan janur, sejumlah penjual menyediakan selongsong ketupat. Seperti halnya Hartini penjual Selonsong ketupat di Blora, mengaku membuat selongsong di tempat jualan, sambil menunggu pembeli.

” Saya menganyam ketupat. Ada yang pilih beli janur, ada yang pilih beli selongsongnya,” kata Hartini penjual selongsong ketupat di Pasar Blora.

Harga seikat selongsong ketupat Rp7.000 berisi 10 buah selongsong.

Sementara itu, Indah seorang pembeli mengaku sangat terbantu dengan adanya janur dan selongsong yang dijual di pasaran. Bagi ibu rumah tangga, ini membuat tidak perlu repot membuat selongsong ketupat. Setelah membeli selongsong tinggal menyiapkan untuk memasaknya.

“Tinggal diisi beras kemudian dimasak, tidak perlu repot buat lagi. Agar tidak layu, diperciki air atau ditaruh di tempat yang agak lembab,” kata Indah.

Kupatan di Blora merupakan tradisi yang berlangsung setiap H+7 Idulfitri.Warga Blora menyebut bodo kupat (hari raya ketupat).

Biasanya warga bersuka cita membuat ketupat dan lepet, kemudian dibuat sebagai tumpeng dan didoakan bersama. Acara selamatan biasanya digelar di rumah salah satu warga atau perangkat desa oleh pemuka agama, untuk memohon keselamatan kepada Tuhan dan dimaafkan kesalahannya.

Beberapa warga memilih membuat dan memasak ketupat lebih awal untuk bekal saudara yang balik mudik ke luar daerah.
Ketupat dan lepet juga diantarkan ke kerabat yang lebih tua, sebagai lambang kebersamaan.

Dari berbagai sumber menyebutkan, dalam filosofi Jawa, ketupat bukanlah sekadar hidangan khas hari raya lebaran.

Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Oleh karenanya, ketupat dan lepet selalu ada dalam tradisi saling bermaafan antar keluarga dan kerabat.

Reporter: Nathan
Editor: Budi erje

Comments
Loading...