Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Islam Aboge di Jepara Tetap Eksis, Jadi Bukti Toleransi Masih Kuat

Penganut Islam Aboge menggelar selamatan pertanda 1 Syawal. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS, Jepara – Bumi Kartini tak hanya menjadi tempat hidup satu golongan, agama, atau kepercayaan saja. Ada banyak agama dan kepercayaan yang hidup damai berdampingan dan harmoni.

Islam Alif Rebo Wage (Aboge) di Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, adalah salah satu aliran kepercayaan berdasarkan Islam Kejawen atau Islam Jawa yang masih eksis sampai detik ini. Sepanjang sejarahnya, hampir tak ada gesekan atau benturan dengan kelompok lain yang bisa memantik konflik.

Hari ini, Jumat (14/5/2021) adalah hari perayaan Idulfitri bagi penganut Islam Aboge di Desa Sukodono. Meskipun mereka sudah melaksanakan Salat Idulfitri hari kemarin bersama-sama umat Islam lainnya, mereka tetap menjadikan hari ini menjadi Lebaran Idulfitri.

Sesepuh Aboge di Desa Sukodono, Basyir, mengungkapkan, secara syariat, ibadah mereka tetap seperti umat Islam pada umumnya. Namun, salah satu yang menjadi pembeda adalah penghitungan penanggalannya.

“Semalam ada takbiran. Paginya ada selamatan. Itu untuk netepi (menandai, red) hitungan penanggalan dan adat Aboge. Tapi kalau soal ibadah ikut Hijriah,” jelas Basyir, usai selamatan di Balai Desa Sukodono.

Tidak hanya penetapan Idulfitri, penganut Islam Aboge juga masih menggunakan penghitungan penanggalan ala Aboge untuk menentukan hari-hari penting lain. Seperti menentukan tanggal dan hari Idul Adha, Asyura, Nisfu Sya’ban, bahkan penentuan hari pernikahan masih didasarkan pada penghitungan Aboge.

Basyir menyebut, jumlah penganut Islam Aboge di Jepara masih banyak. Bahkan, hampir seluruh masyarakat di Desa Sukodono masih mempercayainya. Itu terlihat pada masih adanya tradisi-tradisi Jawa-Islam yang selalu ramai diikuti dari berbagai kalangan.

Setiap kali ada pelaksanaan tradisi yang didasarkan pada penghitungan Aboge, lanjut Basyir, pelaksanaannya selalu dipusatkan di satu titik. Biasanya di balai desa.

“Kalau (pelaksanaan tradisi, red) dilaksanakan di masing-masing musala, nanti kesannya ada kelompok-kelompok. Makannya dijadikan satu sedesa. Supaya bisa bertemu dan akrab,” ujar dia.

Baca: Islam Aboge di Jepara Baru Rayakan Lebaran Idulfitri Hari Ini

Selama ini tradisi-tradisi Aboge masih terus dilestarikan. Meskipun peradaban manusia terus berubah. Bagi Basyir, yang masih dipegang teguh sampai saat ini adalah metode penghitungan tanggal dan hari.

“Semua masih manut Aboge. Tapi kalau soal ibadah semua ikut hijriah. Semua adat istiadat dan tradisi berjalan ketat. Semua warga masih mendukungnya,” tutur Basyir.

 

Reporter: Mansur Hidayat
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...