Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

MENJELANG SENJA BERSAMA CAK NUN

Cak Nun: Sambutlah Idulfitri dengan Jiwa yang Tepat

Cak Nun dalam Menjelang Senja Bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Bulan Ramadan tahun ini sudah hampir menuju puncaknya yakni Idulfitri. Budayawan sekaligus ulama Emha Ainnun Najib atau yang kerap dikenal sebagai Cak Nun pun mengungkapkan, di akhir menjelang kemenangan tersebut, seorang manusia haruslah sudah bertransformasi.

Bertransformasi yang dimaksud adalah sudah menjadi pribadi yang lebih baik lagi ketimbang di awal bulan suci Ramadan. Sehingga ketika menyambut Idulfitri, seorang manusia bisa memiliki jiwa yang tepat.

Puasa sendiri, lanjut Cak Nun adalah sarana untuk memaniskan lidah, memaniskan pikiran dan hati supaya ketika berada di Idulfitri, seseorang tersebut bisa benar merasakan keindahannya.

“Sehingga ketika kita menyambut Idulfitri sudah dengan jiwa yang tepat. Namun, Idulfitri itu kan gaib, lalu bagaimana kita merasakannya,” kata Cak Nun dalam acara Menjelang Senja Bersama Cak Nun & KiaiKanjeng oleh PR Sukun, Selasa (11/5/2021).

Idulfitri sendiri, sambung Cak Nun, bukan sekadar tentang mudik, maaf-maafan antarsesama umat manusia, dan hal-hal duniawi lainnya yang menyenangkan. Itu, tambahnya merupakan Idulfitri dari segi kultural saja.

Lebih dari itu, sambung dia, Idulfitri adalah kembali ke fitri, atau kembali seperti semula di saat Allah SWT menciptakan kita sebagai manusia.

“Namun itu jelas tidak mungkin. Kita sudah tercampur dengan dunia, dengan budaya, dengan hal-hal lainnya,” sambung dia.

Namun, kata Cak Nun, ada satu hal yang membuatnya mungkin. Adalah maaf dari Allah SWT atas semua dosa dan campurnya kita akan dunia serta lainnya.

“Karena itulah, Idulfitri itu tidak minta maaf secara horizontal atau sesama umat manusia saja. Melainkan permintaan maaf secara vertikal, atau pada Tuhan Yang Maha Esa,” jelas Cak Nun.

Dalam episode sebelumnya, Cak Nun turut mengatakan jika seharusnya sudah ada pelembutan hati seorang manusia ketika telah berpuasa hingga menjelan Idulfitri ini.

Puasa sendiri, menurut Cak Nun adalah sebuah proses peragian hati ataupun proses pelembutan hati.

Cak Nun mengatakan, ketika di awal bulan Ramadan manusia masih menjadi sesosok ketela yang keras baik hati, pikiran dan perbuatannya. Kemudian masuk bulan Ramadan dan menjalankan puasanya.

Saat itulah, sambung dia, terjadi proses peragian atau pelembutan hati hingga menimbulkan pribadi yang lembut. Mulai dari hatinya, perbuatannya, sikapnya, pikirannya, dan banyak aspek hidupnya.

“Sing awale pohung atos, terus poso iku proses peragian, lalu kemudian jadi tape yang lembek,(Yang awalnya ketela yang keras, kemudian puasa adalah proses peragian, lalu menjadi tape yang lembut),” jelasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...