Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Klaster Tarawih Muncul di Lima Kabupaten Ini Selama Ramadan, Kemenag Jateng: Jangan Abaikan Prokes

Ilustrasi. Jemaah melakukan salat dengan mengedepankan protokol kesehatan (Dok MURIANEWS)

MURIANEWS, Semarang – Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Tengah mencatat ada lima kabupaten di Jateng yang mengalami penambahan kasus penularan atau klaster daru salat tarawih. Kelima kabupaten itu yakni Brebes, Sukoharjo, Sragen, Pati, dan Purbalingga.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Jateng, Musta’in Ahmad membenarkan, munculnya klaster Covid-19 dari kegiatan salat tarawih di lima kabupaten tersebut.

Meski demikian, ia belum bisa memerinci berapa warga yang dinyatakan terpapar Covid-19 dari klaster tersebut di tiap
wilayah.

“Yang terbaru sih informasinya ada penambahan di Purbalingga. Tapi, data secara detail kami masih memperinci,” ujar Musta’in seperti dikutip Solopos.com.

Musta’in mengaku sebenarnya kurang setuju jika kasus penularan Covid-19 dari warga yang menjalankan ibadah salat tarawih itu disebut klaster tarawih.
Menurutnya belum tentu kasus penularan Covid-19 itu berasal dari kegiatan tarawih.

“Bisa jadi si pasien yang positif itu tertular bukan dari salat tarawih. Apakah yang bersangkutan terpapar virus di masjid? Kita kan enggak tahu. Bandingkan saja dengan hiruk pikuk yang ada di mal, rumah makan, kan penerapan prokes jauh lebih longgar dibanding dengan yang ada di masjid. Masak tempat-tempat itu jauh lebih aman dibanding masjid?” tutur Musta’in.

Kendati demikian, Musta’in mengimbau kepada umat Islam yang menjalankan salat tarawih atau kegiatan keagamaan lainnya untuk menerapkan prokes pencegahan Covid-19 secara disiplin.

“Menurut saya, apakah itu klaster atau tidak, yang terpenting jangan abaikan prokes. Gunakan masker saat di masjid, terapkan jaga jarak, dan sering cuci tangan. Itu upaya kita mencegah penularan Covid-19,” imbau mantan Kepala Kanwil Kemenag Kota Solo itu.

Mustain juga meminta warga untuk tidak menggelar salat Id saat perayaan Idulfitri 1442 Hijriah di tanah lapang. Warga diimbau menggelar salat Id di masjid atau musala yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

“Hasil tausiah MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jateng, salat Id sebaiknya digelar di masjid atau musala. Jangan di lapangan karena akan menimbulkan kerumunan dan berpotensi memunculkan penularan Covid- 19,” terang Musta’in.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...