Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Antisipasi Fluktuasi Harga, Petani Bawang Merah di Grobogan Didorong Bentuk Korporasi

Wakil Bupati Grobogan Bambang Pujiyanto didampingi sejumlah pejabat melangsungkan panen bawang merah di Desa Terkesi. (MURIANEWS/Dani Agus)

MURIANEWS, Grobogan – Komoditas bawang merah di Kabupaten Grobogan mulai mengalami kenaikan yang cukup pesat dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Hal itu disampaikan Wakil Bupati Grobogan Bambang Pujiyanto dalam acara panen dan sarasehan pembentukan korporasi petani bawang merah di Desa Terkesi, Kecamatan Klambu, Sabtu (8/5/2021).

“Pada tahun 2020 lalu, panen bawang merah kita bisa mencapai 204.407 kuintal menempati urutan keempat produksi terbesar di Jawa Tengah dengan luas areal sekitar 2.385 hektare,” katanya.

Menurutnya, meski peningkatan produksi bawang merah bertambah setiap tahunnya, namun permasalahan pasokan-permintan dan fluktuasi harga masih sering terjadi. Bahkan terkadang sampai pada tingkat harga yang tidak masuk akal. Hal ini tentunya berpotensi untuk menghambat pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.

Pemicu kenaikkan harga ini sesungguhnya bukan berasal dari produksi di tingkat petani atau minimnya pasokan, namun lebih disebabkan permainan pasokan di tingkat pedagang. Sehingga menciptakan tata niaga bawang merah yang tidak sehat yang terjadi dalam mata rantai distribusi antara produsen ke konsumen.

Terkait kondisi itu, sangat penting mempercepat industrialisasi dan modernisasi pertanian melalui pembentukan lembaga korporasi dalam rangka meningkatkan pemberdayaan dan kelembagaan petani bawang merah Grobogan. Hal ini dinilai akan meningkatkan peluang nilai tambah sistem agribisnis bawang merah yang mampu bersaing sehingga keuntungan dapat dinikmati langsung oleh petani.

“Korporasi petani merupakan salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi petani yang memiliki dimensi strategis dalam mengubah paradigma pembangunan pertanian ke depan. Yakni, dari semula berbasis individual dan fokus pada usaha tani budidaya menjadi berbasis korporat dan kelompok serta mencakup aneka usaha terintegrasi,” tegas mantan Direktur RSUD Purwodadi itu.

Dalam rangka pembentukan korporasi petani ini, Pemkab Grobogan akan bersinergi dengan institusi maupun kelembagaan. Baik itu kelembagaan penelitian, input produksi, permodalan, pengelolaan panen, pascapanen dan pemasaran hasil. Dengan sinergi tersebut, diharapkan korporasi petani mampu menjadikan petani berdaulat dalam keseluruhan rantai produksi usaha tani, baik  dalam pengelolaan hulu maupun dalam hilir dan pemasaran hasil.

Plt Kadistan Grobogan Sunanto menambahkan, pembentukan korporasi petani bawang merah sudah mulai dirintis. Nantinya, korporasi itu akan diberi nama PT Agro Mandiri Grobogan (AMG) yang statusnya merupakan badan usaha milik petani.

Selain membentuk korporasi, petani juga merencanakan kerja sama dengan PT Pura Barutama Kudus untuk penyimpanan bawang merah ketika harga panen jatuh. Nantinya, bawang merah itu baru dikeluarkan lagi ketika kondisi harga sudah membaik.

“Jadi, PT Pura itu memiliki kontainer khusus yang bisa dipakai untuk menyimpan bawang merah selama beberapa bulan tanpa merusak kualitasnya. Nah, itu nanti akan kita manfaatkan ketika terjadi fluktuasi harga yang cukup tajam,” imbuhnya.

 

Reporter: Dani Agus
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...