Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Metode Panggung Dianggap Lebih Efektif untuk Ternak Anakan Kalkun

Ahmad Suyatno memberi pakan kalkun. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil ula)

MURIANEWS, Kudus – Dalam ternak kalkun, ada beberapa metode yang bisa diterapkan. Salah satunya metode kendang panggung. Metode ini dinilai cukup efektif karena membuat anakan kalkun terhindar dari penyakit.

Teknik ini juga diterapkan oleh Ahmad Suyatno, peternak kalkun di Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kudus. Ahmad-sapaan akrabnya membeberkan awal mula ia menerapkan metode panggung bagi ternak kalkunnya itu.

Metode panggung yang dimaksud oleh Ahmad yakni membuat kandang kalkun yang dibuat bertingkat seperti panggung. Dengan sistem panggung ini kalkun tidak langsung bersentuhan dengan kotoran yang terdapat di tanah.

Karena, metode panggung yang dibuat bersusun dengan bambu membuat kotoran kalkun langsung jatuh ke tanah. Menurut dia, metode panggung didapatkan Ahmad dari dua dosen Universitas Diponegoro (Undip).

“Saya mengikuti konsep beliau. Lalu saya terapkan sejak enam bulan yang lalu dan hasilnya luar biasa. Menurut saya konsep panggung ini membuat kalkun terhindar dari amonia dan bakteri yang dapat menyebabkan kalkun menjadi sakit,” katanya, Sabtu (8/5/2021).

Kalkun yang d]ipelihara menggunakan metode kandang panggung. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil ula)

Ahmad menjelaskan secara detail kepada MURIANEWS perihal metode panggung ini. Pengaplikasiannya untuk tiap-tiap kalkun dipisah-pisah. Per kandang diisi sebanyak 20 hingga 50 ekor kalkun.

Ukuran kandang juga dibuat berbeda. Kalkun usia satu sampai dua bulan diletakkan di kandang berukuran 3×4 meter persegi. Sementara kalkun berusia empat bulan diletakkan di kandang berukuran 3×5 meter persegi.

Lalu, untuk kalkun usia lima sampai enam bulan diletakkan di kandang berukuran 3×6 meter persegi. Ketika usia kalkun menginjak enam bulan, Ahmad memindahkannya ke kandang yang langsung beralaskan tanah.

“Karena kalau sudah umur enam bulan biasanya suka eker-eker. Tapi tetap saya bersihkan per tiga pekan sekali tanahnya saya taburi gamping. Tujuannya untuk membasmi bakteri dan amonia yang ada di tanah,” terangnya.

Menurut Ahmad, sebelum mengaplikasikan metode panggung, anakan kalkun yang dipelihara olehnya rentan terserang penyakit. Terutama saat musim hujan. Sehingga kondisi lembab dan basah.

Ahmad melanjutkan, ada beberapa penyakit kalkun yang harus diketahui. Mulai dari kutil, cacingan, berak kuning, berak putih, berak hijau (kolera) dan timbul bercak hati.

“Kalau hujan jadi lembab dan basah. Sehingga bisa menimbulkan penyakit. Ketika terkena penyakit akan berpengaruh pada produksi. Sembuhnya juga lama dan menghambat pertumbuhan kalkun,” terangnya.

Semenjak dia menerapkan metode panggung selama enam bulan terakhir, kalkun miliknya belum pernah mengalami wabah penyakit. Kondisi kandang dirasa lebih aman meski hujan disertai angin.

Dari segi produksi juga memiliki perkembangan signifikan. Kondisi kalkun juga lebih lincah. Penerapan metode panggung ini perlu diingat agar bagian atap diberi viber. Agar sinar matahari dapat masuk ke area kandang. Tujuannya agar kalkun sehat.

Saat ini jumlah kalkun yang diletakkan di dalam kandang metode panggung ada 150 ekor. Beberapa di antaranya kalkun black spanish, white holland, borbone red, naragan, brown, golden palm, blue slate, dan blirik.

Pemasaran kalkun tersebut tidak hanya di area Kudus dan eks karesidenan Pati. Melainkan sudah ke area Jabodetabek, Banten, Cilegon, dan Sulawesi.

Harga yang ditawarkan beragam. Misalnya kalkun jenis brown dan naragan umur satu bulan harganya berkisar Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu. Sedangkan harga paling mahal di umur satu bulan yakni kalkun jenis blue slate. Harganya mencapai Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu per ekor.

 

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...