Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

OPINI

Potret Kerukunan Beragama dan Dinamikanya

Moh Rosyid *)

KERAJAAN Sriwijaya eksis di Palembang abad ke-7 M, sebelumnya warga telah memeluk agama Buddha berajaran Hinayana dan saat yang sama ajaran Buddha Mahayana tumbuh pesat pula. Era Maharaja Sriwijaya, Sri Indrawarman bertahta pada tahun 702-728 M berkirim surat kepada khalifah (raja Islam) Umar bin Abdul Aziz era khalifah Abbasiyah di Baghdad, Irak agar mengutus mubaligh (pendakwah) ke Sriwijaya.

Agama Hindu pun berkembang dibuktikan adanya arca Alokiteswara abad ke-8 – 9 M terpahat tulisan beraksara Jawa Kuno “Dang Acaryya Syuta” (pendeta Hindu bernama Syuta) di Desa Bunginjungut, Musi Rawas Banyuasin, Sumatera Selatan. Di situs Bumiayu, di tepi Sungai Lematang ada arca Hindu abad ke-9-11 M.

Ada pula situs Buluh China, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang ada arca Buddha abad ke-7-9 M. Kota Barus pun berkembang Kristen Nestorian abad ke-7 M kehidupan multikultur itu nihil konflik. Hal tersebut hasil riset arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo dan Arkeolog Balai Arkeologi Sumatera Utara, Ery Soedewo. Dengan demikian, bangsa ini sudah akur di tengah keragaman. Pertanyaannya, mengapa kini sering ada konflik karena keragaman? Ada apa?.

 

Formula pendidikan Toleran

Prof Abdul Mukti Ali lahir 23 Agustus 1943 di Cepu, Blora, Jateng, alumni pondok pesantren Tremas, tahun 1951-1955 kuliah spesialisasi Sejarah Islam di University of Karachi Pakistan, tahun 1955-1957 studi di Mc Gill Montreal Canada University. Semasa menjadi dosen di IAIN Jakarta mengajar mata kuliah Ilmu Perbandingan Agama. Tahun 1960 perkuliahan tersebut menjadi Program Studi di IAIN Jakarta dan Yogyakarta yang ia pimpin.

Tahun 1971-1978 sang profesor sebagai Menteri Agama mencanangkan program Pembinaan Kerukunan Hidup Beragama dengan memopulerkan kredo “sepakat dalam perbedaan” akibat terjadi gap antar-umat beragama di arus bawah. Era itu ditradisikan dialog pemuka agama dalam satu meja.

Bagaimana kondisi tradisi itu kini?. Sebagai catatan, mata kuliah Ilmu Perbandingan Agama yang materinya ragam ajaran agama-agama tak diampu oleh dosen agama tertentu saja, tapi bekerja sama dengan cendekiawan sesuai dengan materi agama yang diajarkan agar mahasiswa memahami secara tuntas, tidak menebak. Hal ini embrio konflik beragama karena merasa agamanya saja yang superhero dan menuding agama lain rendah.

Kini, tiap pemda provinsi dan kabupaten/kota memiliki lembaga Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) yang anggotanya tiap tokoh agama-agama tapi mampukah meredam embrio konflik berbasis agama?.

Satu catatan, mewujudkan lembaga yang mampu mengemban toleransi dibutuhkan sikap benar-benar toleran pada diri person di tubuh warga FKUB. Bila tidak, ibarat sapu lusuh nankotor untuk membersihkan.

Maka Menteri Agama harus memformulasikan model FKUB masa kini yakni pihak yang ditokohkan mewakili agamanya, tidak main tunjuk, ekses pilkada. Anggaran pun tidak hanya mengandalkan APBD. Kini terkesan temu anggota FKUB di kala ada konflik, tindakan preventif untuk lebih didahulukan.

Semoga generasi milenial yang mudah mengakses ajaran agama-agama melalui teknologi komunikasi tidak terjerembab provokasi penceramah yang menghardik agama A karena kini beragama B (yang sebelumnya beragama A). Penghardikan tersebut penanda tidak dewasa beragama dan agama dikesankan menjadi bahan “dagangan” untuk popularitas diri, naif. (*)

 

*) Penulis adalah pemerhati sejarah agama-agama, dosen IAIN Kudus

Comments
Loading...