Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Enam Jam, Merapi Semburkan Tiga Kali Awan Panas dan Delapan Kali Lava Pijar

Aktivitas merapi Senin (3/5/2021). (Twitter/@BPPTKG)

MURIANEWS, Magelang – Aktivitas Gunung Merapi hingga saat ini masih belum reda. Dalam enam jam terakhir sudah tiga kali meluncurkan awan panas.

Tak hanya itu, gunung yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu delapan kali melontarkan lava pijar ke arah barat daya.

Kapala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menjelaakan awan panas terjadi pada pukul 00.52 WIB, 03.45 WIB, dan 04.30 WIB.

Awan panas tercatat dengan amplitudo 36 hingga 50 milimeter dan durasi 133 hingga 144 detik.

“Teramati tiga kali awan panas guguran dengan jarak luncur maksimal 1.800 meter ke arah barat daya,” kata Hanik dalam keterangannya, Senin (3/5/2021) seperti dikutip Solopos.com.

Dikatakan Hanik, selain awan panas dalam periode yang sama terpantau juga guguran lava pijar. “Teramati 8 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter ke arah barat daya,” jelasnya.

Sementara secara visual, lanjut Hanik, Gunung Merapi terpantau jelas. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 100 meter di atas puncak kawah.

Lebih lanjut, dalam 6 jam tercatat gempa guguran sebanyak 34 kali, hembusan 2 kali, fase banyak 4 kali dan 1 kali gempa vulkanik dangkal.

“Status Merapi masih di tingkat Siaga (Level III),” tegasnya.

Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 kilometer dan pada sektor tenggara yaitu sungai Gendol sejauh 3 kilometer.

Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius 3 kiloneter dari puncak Gunung Merapi. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...