Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Pertahankan Resep Turun Temurun, Keciput Khas Kudus Ini Pun Bikin Turis Belanda Kepincut

Kue keciput khas Kudus. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – Kue keciput menjadi kue kering legendaris masyarakat Kudus, yang biasanya ada di atas meja saat Lebaran. Meski tergolong kue tradisional namun kue keciput masih banyak diminati masyarakat.

Saat ini banyak produsen-produsen kue masih banyak yang memproduksi kue keciput yang legendaris itu. Tak jarang, para produsen kue keciput yang sudah lama pun memutar otak agar kue keciput produksinya tak kalah saing dengan produsen lain.

Seperti produsen kue keciput Barokah 78 yang ada di Jalan dr Wahidin Sudirohusodo, Desa Demangan, RT 2 RW 2, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Owner Barokah 78 Istiqomah (47) menceritakan, Barokah 78 sudah memproduksi kue keciput mulai tahun 1989. Istiqomah sendiri, merupakan generasi kedua yang mengelola, setelah orang tuanya.

“Yang merintis orang tua tahun 1989, dan waktu itu saya sudah mulai bantu produksi. Karena usia orang tua itu sudah tua, tahun 1993 saya yang pegang sampai sekarang, ” katanya.

Proses produksi kue keciput di Barokah 78 Kudus. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Agar tetap diminati masyarakat dan tidak kalah saing dengan produsen-produsen kue kering modern, Istiqomah tetap mempertahankan resep dari orang tuanya. Seperti penggunaan minyak goreng yang berkualitas.

“Kami tetap jaga rasanya agar tetap sama dan tidak berubah dari dulu. Orang tua pernah pesan itu jangan sampai ganti minyak goreng, karena kalau pakai minyak goreng sembarangan itu bisa tidak enak dan tenggorokan gatal. Pemanis pakainya gula asli, bukan pemanis buatan,” jelasnya.

Saat harga minyak gorengnya naik pun, Istiqomah juga ikut menaikkan harga kue keciput yang dijualnya. Saat ini, lanjut Istiqomah, minyak goreng satu jeriken 17 liter naik menjadi Rp 450 ribu.

“Kalau naik ya ikut naik, dulu Rp 350 ribu sekarang Rp 450 ribu. Harga keciput yang awalnya Rp 64 ribu terpaksa saya naikkan sedikit jadi Rp 68 ribu per kilogram. Itu harga grosir,” ucapnya.

Tak hanya saat Lebaran, di hari biasa pun kue keciput Barokah 78 disetorkan ke sejumlah toko camilan dan oleh-oleh diberbagai daerah. Seperti, eks-Karesidenan Pati, Tangerang, Pekalongan dan Semarang.

Bahkan keciput produksinya pernah dijadikan oleh-oleh turis asal Belanda saat berkunjung ke Kudus. “Pernah sampai Netherland (Belanda), waktu itu ada turis dari Netherland kesini, beli keciput, ” ucapnya.

Sementara salah seorang pelanggan Esti Anindiani (51), warga Desa Jati Kulon, Jati, Kudus mengaku, sudah berlangganan sejak lama membeli kue keciput di Barokah 78. Bahkan menurutnya bukan hanya pas momen Lebaran saja.

“Rasanya itu gurih, renyah, ini mau saya kirim ke Bandung untuk oleh-oleh karena tidak bisa mudik, ” imbuhnya.

 

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...