Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Giliran Klaster Ziarah Muncul di Purworejo, 53 Orang Positif Satu Meninggal

Ilustrasi (Pixabay)

MURIANEWS, Purworejo – Penyebaran Virus Covid-19 di Jawa tengah terus bermunculan. Setelah klaster ponpes di Purbalingga, klaster tarawih di Banyumas, hingga klaster masjid di karanganyar, kini giliran klaster ziarah muncul di Purworejo.

Dalam klaster ini, Satgas Covid-19 Purworejo bahkan mencatat ada 53 orang positif Covid-19. Bahkan satu orang di antaranya meninggal dunia.

Klaster tersebut muncul setelah rombongan warga Desa Tlogobulu, Kecamatan Kaligesing, melakukan ziarah ke Magelang pada Minggu (11/4/2021) lalu. Setelah pulang dari ziarah, salah satu warga merasa tidak enak badan dan memeriksakan diri ke Puskesmas.

“Tanggal 11 April ziarah ke Magelang. 25 jemaah musala dan 6 dari dzikrul khofilin yang tergabung dari beberapa desa di kecamatan. Setelah pulang ada yang mengeluh tidak enak badan. Kemudian periksa ke puskesmas sekaligus di-swab dan hasilnya positif Covid-19,” kata Kades Tlogobulu, Faizal Hidayat seperti dikutip Solopos.com, Sabtu (1/5/2021).

Mengetahui salah satu warga yang ikut dalam rombongan ziarah dinyatakan terpapar virus Corona. Pihak desa langsung berkoordinasi dengan Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan terhadap seluruh peserta ziarah dan anggota keluarganya. Dari hasil pemeriksaan, 52 orang lainnya dinyatakan positif Covid-19.

“Jadi yang positif ada 53 orang, satu orang meninggal dunia dari klaster ziarah,” imbuhnya.

Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dari klaster ziarag, 52 orang tersebut kemudian diisolasi mandiri di rumah masing-masing, Selama 14 hari terhitung sejak 26 April 2021. Akses keluar masuk desa pun dijaga oleh petugas agar lalu-lalang warga terkontrol dan terdata.

“Nggak lockdown. Diperintahkan lockdown tapi desa tidak bisa membiayai semua warganya. Jadi hanya pembatasan. Warga yang keluar masuk didata,” jelasnya.

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi warga yang melaksanakan isolasi mandiri, pemdes menggunakan dana desa untuk membeli sembako dan keperluan lain. Faizal menuturkan, hingga saat ini belum ada bantuan apa pun dari pemerintah kabupaten.

“Isolasi mandiri yang terpapar dari klaster ziarah masih sampai tanggal 9 Mei nanti. Sampai sekarang belum ada bantuan dari pemerintah atau pun dinas terkait. Kami nggak mau minta-minta nanti dikira ngemis. Kalau harus bikin proposal malah tambah repot wong kami masih kena musibah. Sementara bantuan dari dana desa dan donatur buat beli sembako, vitamin dan keperluan lain,” lanjutnya.

“Semoga warga yang terpapar segera sembuh dan bisa beraktivitas kembali sehingga roda perekonomian di desa pulih kembali. Karena saking banternya berita yang tidak benar itu (lockdown) warga Tlogobulu merasa terkucilkan. Dagangan nggak laku tidak diterima di desa sebelah,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Satgas Kecamatan sekaligus Camat Kaligesing, Hariyono, membenarkan bahwa telah muncul klaster ziarah di Desa Tlogobulu. Pihaknya bersama Forkopimcam rutin melakukan pengecekan terhadap perkembangan dan keadaan warga yang terpapar.

“Ya memang seperti itu, awalnya memang dari ziarah ya makanya bisa disebut sebagai klaster ziarah. Tadi malam bersama pak Kapolsek kami juga melakukan patroli dan warga merasa senang,” kata Hariyono saat dihubungi.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...