Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

MENJELANG SENJA BERSAMA CAK NUN

Puasa, Latihan untuk Menjaga Jarak Duniawi

Cak Nun dalam program Menjelang Senja Bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Budayawan sekaligus ulama Emha Ainnun Najib atau yang kerap dikenal sebagai Cak Nun dalam acara Menjelang Senja Bersama Cak Nun & Kiai Kanjeng oleh PR Sukun mengungkapkan jika berpuasa adalah sebuah latihan untuk menjaga jarak.

Menjaga jarak yang dimaksud Cak Nun adalah menjaga jarak dari hal-hal duniawi seperti makan dan minum di waktu yang ditentukan. Yakni dari usai subuh hingga magrib.

“Semua hal di dunia ini ada jaraknya, puasa itu juga jadi salah satu latihan mengambil jarak,” ungkap Cak Nun, dalam program Menjelang Senja Bersama Cak Nun & KiaiKanjeng oleh PR Sukun episode Kamis (29/4/2021).

Simpelnya, Cak Nun mencontohkan jika seorang ingin melihat layar teleponnya, membutuhkan jarak yang pas. Tidak kejauhan dan tidak terlalu dekat.

“Semua ada pengelolaan jarak. Salat juga seperti itu, antara subuh, zuhur, ashar, magrib, isya juga ada jaraknya, tidak bisa langsung,” kata Cak Nun.

Oleh karena itulah, tambah Cak Nun, puasa tak hanya sekadar menahan nafsu, melainkan juga mengelola jarak. “Dengan puasa kita tahu persis bagaimana mengelola badan. Kita tahu bagaimana lapar dan bagaimana kenyang,” jelasnya.

Dalam episode sebelumnya, jika sebuah ibadah puasa itu haruslah punya tujuan. Tak hanya puasa, semua amalan-amalan dunia tentunya memiliki unsur dari mana menuju ke mana.

Ibadah puasa, lanjut Cak Nun haruslah diperjelas niatnya. Karena puasa adalah salah satu upaya hijrah dari satu hal ke hal lainnya. Di mana ujungnya, lanjut Cak Nun, adalah sebuah ketentraman.

“Semua ibadah, sejatinya juga harus diatur untuk menuju sebuah ketentraman. Artinya sudah tidak ada pamrih, sudah tidak ada dengki, dan tidak mengejar dunia,” kata Cak Nun.

Namun, Cak Nun mewanti-wanti untuk tidak mengartikan ketentraman secara sempit. Sehingga dalam perjalanan kehidupan juga tidak asal sembarangan.

“Taatlah kepada yang Allah kehendaki. Kalau sudah jadi jagung ya jangan iri jadi padi. Kita tidak bisa semau-maumu dan itu yang kita lakukan,” ujarnya.

Berpuasa sendiri, sambung Cak Nun, adalah menahan diri untuk tidak berbuat hal-hal yang tidak baik. Manusia bisa berbuat apapun, baik maupun buruk. Tetapi mereka juga bisa memilih untuk tidak berbuat hal yang buruk.

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...