Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Harga Dinaikan Tak Laku Dijual-Tak Naik Rugi, Kedelai Impor Bikin Produsen Tahu di Pati Serba Bingung

Diyono membagikan tahunya kepada tetangga secara cuma-cuma. (MURIANEWS/Cholis Anwar)

MURIANEWS, Pati – Sudah 20 tahun lebih M Diyono memproduksi tahu. Selama itu pula, dia tak pernah mengeluhkan produksinya lantaran selalu habis terjual dalam sekali produksi. Tak jarang juga yang memborong tahu istimewanya tersebut.

Bahkan dia sempat kewalahan ketika ada pesanan hajatan warga. Ini wajar, bahan dasar kedelai yang digunakan warga Desa/Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati ini menggunakan kedelai impor dari Amerika. Selain rasanya yang tergolong enak, saat itu harganya juga cukup murah.

Namun, setelah harga kedelai impor mengalami lonjakan drastis, pihaknya tidak bisa berharap banyak. Bahkan dia juga sempat terpukul lantaran hal itu juga disertai dengan berkurangnya pasokan kedelai.

“Dulu sebelum harganya menggila seperti ini, produksi tahu saya cukup banyak. Karena banyak juga yang pesan, bahkan dari luar daerah juga ada. Tetapi setelah harganya naik, tentunya kan berdampak pada kenaikan harga jual tahu juga. Kalau harga tidak saya naikkan, saya tidak bisa dapat keuntungan, malah bisa dibilang rugi,” katanya.

Saban hari, dulunya bapak dengan dua anak ini mampu menghabiskan satu kuintal kedelai dalam sekali produksi tahu. Bahkan terkadang bisa lebih ketika banyak orang yang punya hajatan. Namun, saat ini paling-paling hanya menghabiskan 50 kilo kedelai bahkan bisa kurang.

Kondisi penjualan mulai melemah diakui sejak pandemi Covid-19, di mana banyak acara hajatan yang tidak diperbolehkan pemerintah. Mutlak permintaannya pun juga menurun. Bahkan hal ini sangat terasa pada saat awal tahun 2021 hingga saat ini.

“Paling banyak pelanggan saya memang bakul. Tetapi tidak sedikit juga orang hajatan yang memesan tahu dari saya. Semenjak acara hajatan tidak diperbolehkan, jelas konsumen saya berkurang derastis,” urainya.

Kondisi itu kemudian diperparah dengan terus melonjaknya harga kedelai. Pada pertengahan 2020 lalu, harga kedelai sudah menduduki angka Rp 7.500 per kilogram.

Kemudian pada awal 2021, harganya sudah tak terkontrol hingga tembus di angka Rp 9.200 per kilogram. Saat ini, harganya sudah Rp 10.100 per kilogram.

Menurutnya, harga tersebut bisa jasa akan terus naik apabila tidak ada pengendalian dari pemerintah pusat. Disamping kedelai lokal, saat ini juga minim produksi.

Rupanya, kenaikan harga kedelai impor itu juga turut mempeeburuk kondisi produksi Diyono, apalagi saat Ramadhan seperti ini. Ditambah banyak juga warung makan yang tutup dan hanya buka pada sore dan malam hari.

Setiap hari, produksi tahu yang dilakukan oleh Diyono sering kali tidak habis terjual. Selalu ada sisa. Karena itu, sisa tahu itu pun dibagikan oleh tegangganya, sekali pun dia harus merugi.

“Setiap hari ada sisa. Dari pada mubazir lebih baik saya bagikan kepada tetangga,” ucapnya.

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...