Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

KH Sya’roni Achmadi Ahli Tafsir yang Produktif Tulis Kitab dan Pendiri RSI Sunan Kudus

KH Sya’roni Achmadi Bersama Gus Mus. (FB Gus Mus)

MURIANEWS, Kudus – KH Sya’roni Ahmadi wafat pada Selasa (27/4/2021) hari ini. Selama hidupnya, Yi Sa’roni dikenal sebagai seorang ahli tafsir, dan punya aktif dalam berbagai organisasi.

Noor Ridlho Kerabat KH Sya’roni Achmadi mengatakan, KH Sya’ronioi sangat menyukai ilmu tafsir. Bahkan ia juga masuk dalam kategori ahlki tafsir yang telah menelorkan berbagai macam kitab.

“Pak kiai itu, mempelajari khusus soal tafsir, hingga menjadi ahli tafsir. Kalau kitab yang dibuat ada empat lebih. Dulu Mbah Sya’roni itu ngajar ngaji di Menara Kudus, tapi setelah sering sakit itu dirumah, ” katanya.

Beberapa kitabnya yang cukup terkenal yakni Al-Faraid al-Saniyah yang mengupas tentang ahlusunnah wal jama’ah. Serta kitab Al-Tashrih al-Yasir fi ‘ilmi al-Tafsir. Kitab ini menjelaskan tentang hal-hal mendasar dalam penafsiran Alquran mulai dari pembacaan, lafal-lafalnya, arti-arti yang berhubungan dengan hukum dan sebagainya.

Selain itu, KH Sya’roni juga merupakan salah satu pendiri RSI Sunan Kudus. Hal ini disampaikan oleh Direktur RSI Sunan Kudus, dr Ahmad Syaifuddin. Menurutnya KH Sya’roni Ahmadi memiliki peran penting di RSI Sunan Kudus.

“Mbah Sya’roni selain sebagai ulama besar beliau juga mendirikan RSI Sunan Kudus pada tahun 1990,” katanya saat ditemui di sekitar lokasi pemakaman, Selasa (27/4/2021).

Baca: Jenazah KH Sya’roni Achmadi Tiba di Rumah Duka, Pelayat Lantunkan Tahlil

Bahkan, tidak hanya sebagai pendiri, menurut dr Ahmad Syaifuddin almarhum juga sebagai dewan pembina di RSI sejak tahun 1990 hingga sekarang. Perannya dirasa sangat penting.

“Kalau ada permasalahan atau hal-hal yang signifikan selalu kami konsultasikan dengan beliau. Naseha-nasehat beliau sangat berarti,” terangnya.

Dokter Ahmad Syaifuddin mengatakan, toleransi beragama juga selalu ditegakkan beliau. Baik kepada pasien muslim maupun nonmuslim.

“Beliau selalu katakan ini rumah sakit Islam. Jadi kegiatan pelayanan harus memiliki keislaman. Kata beliau walaupun pasien tidak berdaya harus tetap diajari untuk ibadah. Sedangkan untuk pasien non muslim harus tetap diperlakukan dengan baik,” imbuhnya.

Sementara itu, hingga pukul 13.15 WIB, santri, warga terus berdatangan untuk menyolatkan almarhum.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula, Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...