Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Kemenag Sebut Toa Masjid Hanya untuk Azan Bukan Bangunkan Sahur, Dosen IAIN Kudus: Perlu Aturan Hukum Lebih Tinggi

Pengeras suara di salah satu masjid yang ada di Kecamatan Kaliwungu, Kudus. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANERWS, Kudus – Kementerian Agama (Kemenag) melalui instruksi Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978 menyebut tentang penggunaan pengeras suara atau toa di masjid, langgar dan musala. Dalam ketentuan itu disebutkan jika penggunaan pengeras suara ke luar masjid hanya untuk azan.

Sementara untuk kegiatan salat, doa, dan zikir harus menggunakan pengeras suara ke dalam ruangan masjid. Hal ini merespon adanya keluhan tentang gaya membangunankan sahur dari masjid.

Serta polemik dari sentilan artis Zaskia Adya Mecca tentang cara membangunkan sahur menggunakan pengeras suara atau toa masjid yang dinilai kurang etis dan tidak menghargai yang lain.

“Cuma mau nanya ini bangunin model gini lagi HITS katanya?! Trus etis ga si pake toa masjid bangunin model gini?? Apalagi kita tinggal di Indonesia yang agamanya pun beragam.. Apa iya dengan begini jadi tidak menganggu yang lain tidak menjalankan Sahur?!” katanya dalam akun Instagram @zaskiadyamecca.

Dikutip dari CNN Indonesia, Dirjen bina Masyarakat Islam Kemenag Kamaruddin Amin menyebut, jika toa masjid juga keperuntukannya tidak untuk membangunkan sahur.

“Pengeras suara masjid tidak untuk dipakai membangunkan sahur, apalagi jika dengan cara-cara dan muatan yang mengganggu orang lain,” katanya, Jumat (23/4/2021) kemarin.

Sementara dosen IAIN Kudus Moh Rosyid menyebut jika aturan penggunaan pengeras suara masjid itu perlu ada tindaklanjuti dengan produk hukum yang lebih tinggi.

“Misal menjadi yang lebih tinggi yakni dari intruksi dirjen menjadi Peraturan Menteri Agama (PMA),”  katanya, Sabtu (24/4/2021).

Selain itu, sambung Rosyid, aturan tersebut juga harus disosialisasikan. Penyuluh agama Islam di setiap Kantor Urusan Agama (KUA) juga harus dilibatkan untuk menyosialisasikan aturan tersebut, baik kepada tokoh agama ataupun masyarakat luas. Terutama kepada pengelola masjid ataupun musala di wilayah kerjanya.

“Setiap Kemenag kabupaten juga harus bermitra dengan ormas Islam untuk mensosialisasikan itu,” ucapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, ketika penggunaan pengeras suara dianggap ada unsur mengganggu kenyamanan publik di jam istirahat, maka publik lain pun bisa turut berempati dengan memberi teguran kepada pelaku.

“Kedewasaan masyarakat dengan empati pada yang lain dalam hal beribadah, misalnya tidak menggunakan speaker yang overloud waktu,” jelasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...