Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Harga Kedelai Melonjak, Omzet Produsen Tahun di Pati Turun 50 Persen

 

Diyono saat memotong tahu di gudang produksinya. (MURIANEWS/Cholis Anwar)

MURIANEWS, Pati – Imbas dari naiknya harga kedelai impor, membuat para produsen tahu di Kabupaten Pati tak bisa berbuat banyak. Apalagi hal itu berpengaruh pada omzet penjualan yang mengalami penurunan hingga 50 persen.

Selain itu, daya beli masyarakat mulai awal pandemi hingga bulan puasa ini relatif menurun. Para produsen tahu pun terus memutar otak agar tetap bisa memproduksi dan menjualnya kepada konsumen.

Hal itu diakui oleh M Diyono, produsen tahun di Desa/Kecamatan Wedarijaksa, Pati. Dia mengatakan, ketika awal harga kedelai naik, yakni pada Juni 2020 lalu, daya beli masyarakat sudah mulai menurun. Apalagi, mau tidak mau dia juga harus menaikkan harga tahunya.

“Ketika harga kedelai terus naik, saya juga menaikkan harga jual tahu. Karena kalau tidak saya naikkan, saya tidak dapat keuntungan,” katanya saat ditemui di dugang produksinya, Jumat (23/4/2021).

Hanya saja, untuk menaikkan harga tahu tersebut, dia masih membutuhkan banyak pertimbangan. Proses kenaikannya pun dilakukan secara bertahap.

Sebelum harga kedelai naik, Diyono menjual tahu seharga Rp 25 ribu per kotak dengan ukuran 50 centimeter persegi atau 100 potong tahu ukuran sedang. Kemudian saat puasa ini, harganya sudah mencapai Rp 30 ribu.

“Saat saya naikkan harga itu, awalnya ada juga konsumen yang protes. Tapi saya jelaskan secara rinci penyebab kenaikannya, sehingga mereka bisa menyadari,” jelas Diyono.

Meski pun demikian, keuntungan yang didapat Diyono pun tidak berangsur membaik, apalagi saat bulan puasa ini. Bahkan omzetnya menurun hingga 50 persen.

Selain semakin berkurangnya minat pembeli, saat puasa banyak warung yang tutup di pagi hari, sehingga penjualan menurun.

Diyono mengaku, dengan penurunan hingga 50 persen itu, pihaknya mengaku hanya mendapatkan keuntungan sangat minimal. Paling-paling hanya cukup untuk menutup ongkos produksi dan untuk kebutuhan harian.

“Dengan penurunan itu, untuk biaya sekolah anak saja tidak ada. Bayar angsuran juga tidak ada. Hanya cukup untuk kebutuhan harian saja,” keluhnya.

Untuk membalikkan keadaan menurutnya, setidaknya pemerintah memang harus menekan harga kedelai impor ini. Karena kalau harga kedelai terus menerus naik, pihaknya juga sulit untuk mengambil keuntungan yang cukup.

“Pemerintah jangan tutup mata lah. Produsen tahu di mana pun pasti mengeluhkan hal yang sama. Pemerintah harus segera mengambil kebijakan agar harga kedelai ini bisa tetap stabil,” tandasnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...