Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

179 Siswa SMP di Karanganyar Putus Sekolah Selama Pandemi, Gara-Garanya Malas Belajar Hingga Ekonomi Keluarga

Ilustrasi. (detik.com)

MURIANEWS, Karanganyar – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar mencatat siswa SMP yang putus sekolah selama pandemi ini mencapai 179 siswa. Jumlah tersebut, merupakan jumlah akumulasi yang dihitung hingga akhir tahun 2020.

“Betul, 179 anak putus SMP hingga tahun ini. Itu dihitung dari keseluruhan siswa SMP. Total kan 30.000-an lebih siswa SMP. Kebanyakan dari sekolah swasta,” kata Kepala Disdikbud Kabupaten Karanganyar, Tarsa seperti dikutip Solopos.com.

Tarsa menyebut angka anak putus sekolah meningkat drastis apabila dibandingkan tahun sebelumnya. Sayangnya, Tarsa tidak dapat menyebutkan data anak putus sekolah pada tahun lalu.

“Luar bisa peningkatannya. Sebabnya bervariasi, ada yang malas, kalau menikah relatif kecil. SMP masak menikah. Ya ada kenakalan remaja. Kalau soal biaya relatif kecil karena rata-rata kan [sekolah] sudah gratis,” ujar dia.

Disdikbud mengarahkan seratusan lebih siswa itu untuk tetap melanjutkan pendidikan, tetapi melalui jalur nonformal. Tarsa mengusulkan pendidikan nonformal atau kejar paket B.

Terpisah, Bupati Karanganyar, Juliyatmono, mengakui kondisi tersebut. Bupati menyampaikan banyak siswa tidak mengikuti ujian sekolah (tahun lalu) karena berbagai alasan. Secara gamblang, Bupati menyebut salah satu penyebab angka anak putus sekolah di daerah meningkat, yakni pembelajaran daring terlalu lama.

“Dampak sosial pembelajaran daring cukup lama. Sejumlah kepala sekolah menceritakan perangai anak-anak berubah seperti belum pernah sekolah. Tata krama luluh lantak. Anak-anak terpaksa bekerja karena keadaan ekonomi keluarga,” tutur dia.

Dia memaklumi kondisi tersebut. Tetapi, pemerintah tidak bisa menutup mata terkait persoalan pendidikan anak-anak. Hal itu berkaitan dengan masa depan mereka.

Oleh karena itu, Bupati mengintruksikan kepala sekolah mendata siswa pada ujian sekolah tahun ini. Dia berharap guru dan tenaga pendidik tidak hanya memprioritaskan hasil ujian.

“Fokus pembinaan dan pendataan. Berapa yang tidak ikut ujian. Itu penting agar kami dapat mengetahui penyebab (putus sekolah). Tolong diperhatikan dengan baik soal itu. Kami butuh data akurat untuk mengetahui akar masalah,” kata dia.

Pada masa pandemi Covid-19, imbuh Bupati, pemerintah dan masyarakat tidak bisa bicara tentang kualitas pendidikan secara berlebihan. Menurutnya prioritas di masa darurat ini adalah anak-anak tidak kehilangan kesempatan pendidikan.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...