Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Duh! Nama Gus Dur Juga Tak Ada di Kamus Sejarah Indonesia

Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (Detik.com/getty images)

MURIANEWS, Jakarta – Selain nama pendiri Nadlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari yang hilang dari Kamus Sejarah Indonesia, ternyata nama Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga tak tercatat dalam buku tersebut.

Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda mengaku sangat kecewa dengan buku tersebut. Apalagi nama Gus Dur merupakan tokoh nasional dan pemimpin bangsa yang sangat berperan penting bagi Bangsa Indonesia.

Baca: Warga NU Protes Nama KH Hasyim Asy’ari Hilang dari Kamus Sejarah Indonesia, Begini Kata Kemendikbud

“Sekali lagi memang kita dibikin jengkel betul ini, kita dibikin kecewa berat atas penerbitan buku Kamus Sejarah Indonesia ini,” kata Huda seperti dikutip Detik.com, Rabu (21/4/2021).

Ia menjelaskan, meskipun Kemendikbud sempat mengatakan bahwa kamus itu belum final, Huda tetap menyayangkan. Sebab, menurut Huda, kamus itu sudah dapat diunduh oleh publik.

“Jadi kemarin kan Kemendikbud rilis melalui Mas Hilmar Farid Dirjen Kebudayaan menyampaikan draf ini belum final, draf ini belum resmi, dan seterusnya. Tapi faktanya kan itu bisa diunduh melalui situs Kemendikbud yang namanya Rumah Belajar. Yang kedua ISBN-nya pun sudah ada itu yang drafnya belum final,” ujarnya.

Baca: Viral Video Laki-Laki Pegang Bokong Jemaah Perempuan saat Salat, Netizen Geram

Lebih lanjut, Ketua DPP PKB ini meminta agar Kamus Sejarah Indonesia yang tak mencantumkan nama Gus Dur ditarik. Dia menilai kamus itu harus direvisi.

“Karena itu, sekali lagi kita tegaskan itu sebenarnya ditarik dan dilakukan revisi total. Karena mengingat dua hal, yang pertama adalah penyusunannya sangat tuna sejarah tidak mengerti sama sekali tentang sejarah Indonesia,” ujarnya.

Bagi Huda, Gus Dur merupakan tokoh besar yang berpengaruh terhadap demokrasi Indonesia. Gus Dur, menurutnya, tokoh yang berani menegakkan demokrasi saat era Orde Baru.

Baca: Bebas Murni, Abu Bakar Ba’asyir Tak Wajib Lapor

“Kita harus meletakkan Gus Dur sebagai tokoh peletakan jilid kedua demokrasi di Indonesia yang itu lalu melahirkan era reformasi waktu itu. Ketika tidak ada satu pun tokoh di Indonesia yang berani melawan rezim otoritarianisme Orde Baru, Gus Dur-lah pendiri Fordem, Forum Demokrasi,” sebutnya.

Ke depan, Huda mengatakan Komisi X DPR akan mengundang Kemendikbud. Hal itu guna mendapatkan penjelasan soal kontroversi Kamus Sejarah Indonesia.

“Kita agendakan untuk ini ya untuk meminta penjelasan terkait dengan ini. Karena ini kontroversi yang kesekian. Ini kebijakan pendidikan yang menuai kontroversi,” imbuhnya.

Sebelumnya, tidak adanya nama Gus Dur dalam kamus sejarah itu diungkap oleh Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung, Muhammad Faizin. Dia mengatakan nama Gus Dur hanya muncul sebagai pelengkap tulisan.

Baca: Honda Jazz Ngedrift di Jalanan Kota Solo Viral, Mobil Disita dan Pengemudi Diperiksa

“Nama Gus Dur tidak dimasukkan ke jajaran tokoh yang ada. Nama Gus Dur hanya muncul sebagai pelengkap sejarah beberapa tokoh di antaranya tokoh Ali Alatas yang ditunjuk sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri pada masa pemerintahan Gus Dur. Selain itu nama Gus Dur digunakan untuk melengkapi sejarah tokoh Megawati Sukarnoputri dan Widjojo Nitisastro,” kata Faizin, seperti dikutip di situs nu.or.id, Rabu (21/4/2021).

Selain itu, Faizin mengaku heran adanya sosok Abu Bakar Ba’asyir yang justru dimuat dalam kamus tersebut. Diketahui, Abu Bakar Ba’asyir merupakan mantan narapidana kasus terorisme.

“Justru dalam buku ini, ada beberapa nama yang dipertanyakan kemunculannya oleh masyarakat di antaranya sosok Abu Bakar Ba’asyir yang termuat di halaman. Sosok mantan narapidana kasus terorisme yang menolak membuat pernyataan tertulis setia pada ideologi Pancasila justru muncul pada buku yang diterbitkan oleh Direktorat Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini,” ujarnya

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Detik.com

Comments
Loading...