Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Penyuluh Agama di Kudus Diajak Jadi Benteng Propaganda Radikalisme di Medsos

Iptu Subkhan menjadi narasumber dalam kegiatan Pengarusutaman Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan Penyuluh di Kantor Kemenag Kudus, Senin (19/4/2021). (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Kudus – Penyuluh agama se-Kabupaten Kudus mengikuti kegiatan Pengarusutaman Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan Penyuluh di Kantor Kementerian Agama Kudus Senin (19/4/2021). Mereka diajak untuk menjadi pengerak untuk membentengi masyarakat dari Gerakan propaganda radiskalisme di media sosial.

Narasumber yang dihadirkan salah satunya Kepala Unit (Kanit) Keamanan Khusus Satintelkam Polres Kudus Iptu Subkhan. Ia menjelaskan tentang peran strategis penyuluh agama dalam rangka menjaga moderasi beragama dan kebhinekaan di tengah masyarakat.

Menurutnya, memahami ajaran agama dari sisi akidah, syariah dan tasawuf secara seimbang menjadi sangat penting, karena akan menjadikan cara berpikir seseorang menjadi moderat. Sehingga sikap dan cara beragamanya akan menjadikan seseorang berkepribadian paripurna.

“Ketika moderasi dan wawasan kebangsaan memiliki tujuan menjaga toleransi di tengah kebhinekaan, dan persatuan dan kesatuan, maka, paham radikalisme menjadi ancaman. Sebab, terdapat doktrin fanatik, hakimiyah/takfiri, intoleran, eksklusif dan revolusioner,” katanya.

Sebagai penyuluh agama, lanjut dia, memiliki tugas penting yakni bagaimana menjaga masyarakat agar terbentengi dari segala hal yang merusak moderasi beragama, dan wawasan kebangsaan. Sebab, fatwa-fatwanya lah yang menjadi rujukan masyarakat.

“Pertama, yang harus dilakukan setelah diangkat sebagai penyuluh agama adalah melakukan langkah nyata untuk menanggulangi gerakan propaganda radikalisme yang saat ini gencar disebarkan melalui media online dan media sosial,” katanya.

Oleh sebab itu menurutnya, perlu memperkuat literasi melalui media online dan media sosial berbasis ajaran agama untuk mengimbangi propaganda penyebaran paham radikalisme serta berita hoaks yang memicu ujaran kebencian serta perpecahan.

Jika tidak ditanggulangi dengan cepat akan berdampak tereduksinya ikatan antarumat beragama.

“Pendidikan ini bertujuan membentuk perilaku yang baik pada masyarakat, berdasarkan nilai dan norma tauhid/akidah, syariah dan tasawuf. Sehingga memiliki pemahaman yang tidak menyimpang,” ucap dia.

Kudus, sambung dia, menjadi kiblat toleransi di Indonesia karena terdapat Masjid Menara warisan Sunan Kudus. Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Menara Kudus menjadi simbol pengalaman ratusan tahun mengelola keberagaman etnis dan agama masyarakat Kudus.

Konsep moderasi beragama Masjid Menara Kudus sangatlah tinggi, di mana bangunannya kombinasi tiga ajaran agama, yakni Islam, Hindu, dan Budha. Kubahnya, mencirikan agama Islam, bangunannya mencirikan agama Hindu dan pancuran tempan wudunya mencirikan ajaran Budha.

“Maka isu-isu terkait sara, ektrimisme beragama seyogyanya tidak sedikitpun bisa mengusik kedamaian yang tercipta disini (Kudus). Sebab, melalui persaudaraan masyarakat beragama akan jauh lebih mampu untuk memaknai bagaimana moderasi dalam beragama. Itu harus selalu terus diwujudkan,” ungkap dia.

Lebih lanjut, Subhan meincikan, kedamaian tercipta bukan karena agama, namun karena budaya. Apapun agamamu, ketika budayanya rukun maka kedamaian akan terwujud.

“Tapi ketika agamanya sama pun, tapi budayanya tidak rukun maka kedamaian sulit terwujud, ” pungkasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...