Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Suluk Maleman: Menyelami Hakikat Menep dalam Puasa

Anis Sholeh Ba’asyin dalam Suluk Maleman. (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Pati – Istilah bahasa Jawa ‘menep’ atau dalam bahasa Indonesia mempunyai arti ‘diam, tenang,’ menjadi topik pembahasan dalam Sukuk Maleman yang dihelat secara daring pada akhir pekan kemarin. Hal itu lantaran istilah menep sendiri, mampunyai beragam interpretasi.

Dalam menjalankan ibadah puasa misalnya, menep bisa diejawantahkan sebagai upaya manusia untuk menarik diri dari keramaian. Berdiam diri sambil mengambil memaknai hikmah-hikmah kehidupan yang ada.

Seseorang yang dalam puasanya bisa menep, maka akan menemukan hakikat dari puasa itu sendiri. Tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga dari mulai fajar hingga terbenamnya matahari. Tetapi lebih pada makna trasendental yang ada di dalam puasa.

Anis Sholeh Ba’asyin saat membuka diskusi suluk maleman mengatakan, bila seseorang telah mampu menep, maka Ia akan mampu lebih bijaksana atau dewasa. Orang dapat melihat dan menangkap nilai-nilai dalam sebuah peristiwa, manakala dia sudah menepi.

“Kita sering menemukan peristiwa tertentu. Dibohongi orang misalnya. Kita tahu dan marah. Itu mungkin reaksi normal. Tapi setelah sekian waktu dan bisa menep, kita bisamengambil hikmah dan memberi makna yang berbeda dan lebih dalam,” ujarnya.

Bagi Anis Sholeh Ba’asyin, reaksi seseorang terhadap peristiwa itulah yang menunjukkan seberapa menepnya dia. Puasa itu sendiri menjadi jalan untuk memudahkan dalam memfermentasi nilai-nilai kehidupan.

“Pengalaman hidup, jika semakin lama diendapkan tentu akan semakin kuat dalam melahirkan pemaknaan dan memahami nilai-nilai,” ujarnya.

Dengan menep juga diharapkan membuat orang tidak kagetan dengan apa yang dilihatnya, sehingga keliru dalam bereaksi. Hal itu lantaran seringkali apa yang dilihat tidak sesuai dengan kenyataan. Apalagi di era media sosial seperti sekarang ini.

“Di media sosial, meski tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi, orang begitu mudah ngomong apa saja. Mudah menghakimi. Kalau orang bisa menghakimi orang lain, tentu tidak perlu ada pengadilan akhirat. Padahal tidak seperti itu,” tegasnya.

Untuk itulah, puasa juga mengajari untuk kembali menjadi manusia. Puasa mengajak untuk menahan diri. Terutama untuk hal-hal yang berdampak buruk. Puasa melatih membuat orang menep dengan output kedewasaan dan kebijaksanaan.

“Kenapa harus menahan diri?. Terkadang manusia itu merasa tahu semuanya dan ingin ikut berkomentar, ikut campur. Akhirnya ini membuat permasalahan menjadi mubal. Menjadi keruh atau tidak jernih. Dalam kaitan ini, menep akan membuat orang memahami bahwa pada dasarnya dia punya keterbatasan pemahaman. Karena tidak mungkin kita paham pada semua hal,” tegasnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...