Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

OPINI

Mengenal Siklon Tropis yang Sering Mengakibatkan Bencana di Indonesia

Wenas Ganda Kurnia *)

PADA awal April 2021 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan telah terbentuk siklon Seroja di wilayah perairan sebelah selatan Nusa Tenggara Timur, selang beberapa hari siklon Seroja menjauh dari perairan Indonesia muncul siklon dengan nama Surigae di perairan Filipina bagian selatan.

Sebelum Seroja dan Surigae muncul kita ingat pada tahun 2017 telah terjadi siklon Cempaka yang letaknya berada di perairan Selatan Jawa Tengah, sekitar 100 km sebelah selatan tenggara Cilacap. Kemudian setelah itu muncul siklon Dahlia.

Siklon Dahlia muncul di wilayah 470 km sebelah barat daya Bengkulu. Akibat dari fenomena siklon tropis tersebut, maka sebagian besar wilayah yang berada disekitar atau dekat akan sangat berpotensi untuk terjadi cuaca buruk berupa hujan lebat disertai angin kencang dan petir sehingga akan memicu terjadinya banjir, banjir bandang dan tanah longsor seperti yang terjadi baru – baru ini di NTT.

Penyebab munculnya siklon ini dipengaruhi oleh perbedaan tekanan yang tidak merata di permukaan wilayah Indonesia. Selain itu, ini juga dipengaruhi oleh perubahan suhu permukaan laut.

Saat ini, matahari berada di bagian utara bumi dan membuatnya lebih hangat dibandingkan dengan belahan bumi selatan. Perbedaan ini membuat atmosfer di belahan bumi utara lebih cair dan lebih renggang dan sebaliknya.

Oleh sebab itu, tekanan udara pun menjadi lebih rendah sehingga kondisi semacam ini akan membentuk bibit siklon/badai karena aliran udara dan uap air akan tertarik ke pusat tekan rendah.

Masa panen siklon di Indonesia terjadi pada saat peralihan musim, siklon yang lahir di Indonesia masih sangat jarang, fenomena ini bukanlah bencana yang asing untuk negara lain seperti Filipina. Setiap tahun Filipina hampir selalu mengalami peristiwa siklon tropis.

Namun bagi masyarakat Indonesia, peristiwa siklon tropis merupakan hal yang baru dan belum banyak dikenal oleh masyarakat. Faktanya, masyarakat lebih kenal dengan bencana alam banjir, tanah longsor, puting beliung, angin kencang, dan tsunami.

Padahal tidak menutup kemungkinan juga bahwa wilayah Indonesia akan mengalami peristiwa badai tropis ini dan mendapatkan dampak langsung maupun tidak langsung.

Berdasarkan riwayat data kejadian siklon tropis di Indonesia, sebenarnya siklon tropis Seroja, bukanlah siklon yang pertama terjadi di wilayah kita. Beberapa tahun yang lalu, wilayah kita juga pernah terjadi siklon tropis diantaranya Cempaka, Dahlia,  Anggrek di perairan barat Sumatera (30 – 4 November 2010) dan Bakung di perairan barat daya Sumatera (11 – 13 Desember 2014).

Diberi Nama Nama Bunga

Mungkin teman-teman bingung, kenapa siklon – siklon itu diberi nama-nama bunga. Dinamakan seperti itu bukanlah tanpa sebab. Ini karena badan meteorologi di seluruh dunia, termasuk Indonesia, punya kesepakatan dalam pemberian nama siklon ini.

Sebelumnya oleh BMKG sudah menyediakan dua kelompok nama, misalnya nama-nama wayang. Namun, saat ini diubah menjadi nama-nama bunga agar lebih netral serta agar tidak memberi kesan menyeramkan akibat dampak buruk yang disebabkan badai tersebut.

Kemudian huruf depan nama badai yang lahir, ditentukan sesuai dengan urutan abjad. Seperti nama badai Cempaka, huruf C adalah urutan abjad ke tiga dan merupakan badai ketiga yang lahir di Indonesia.

Begitu juga badai Dahlia, huruf depan D merupakan urutan abjad ke empat dan merupakan badai keempat yang lahir. Sementara itu, beberapa nama siklon/badai yang belum terpakai adalah flamboyan, kenanga, lili, mangga, dan teratai.

Jadi jika ke depan ditemukan badai siklon lagi, maka kemungkinan besar namanya badai siklon Teratai. Menurut WMO (World Meteorilogical Organization), penamaan badai ini bertujuan untuk membantu kita mengingat dan memudahkan wartawan dalam menuliskan berita.

Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, fenomena siklon tropis ini, masih akan bertahan beberapa hari kedepan dan kemungkinan akan tumbuh atau muncul siklon baru. Oleh karena itu, masyarakat dihimbau agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir bandang, tanah longsor, angin kencang yang menyebabkan pohon tumbang. Kemudian aktivitas penerbangan dan maritim.

 

*) Penulis adalah pengamat dan Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Tuban

Comments
Loading...