Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Bupati Sragen Minta Bantuan Kades Sosialisaskan Larangan Mudik ke Warga di Perantauan

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati (Solopos-Tri Rahayu)

MURIANEWS, Sragen— Berbagai cara ditempuh Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati untuk menyosialisasikan larangan Mudik 2021. Salah satunya adalah dengan meminta bantuan kepala desa hingga paguyuban warga Sragen di daerah perantauan.

Yuni meminta kades dan lurah membuat video imbauan tidak mudik kepada warga yang berada di perantauan. Upaya serupa juga ditujukan kepada keluarga agar memberikan pemahaman kepada anggota keluarga di perantauan supaya tidak mudik.

Yuni juga menggandeng paguyuban warga Sragen di perantauan agar menyosialisasikan larangan mudik kepada warga Sragen di perantauan, salah satunya di DKI Jakarta. Kampanye masif ini memanfaatkan media sosial dan jejaring lain.

“Bukan berarti sebelum tanggal 6 Mei boleh balik. Ini yang perlu perhatian,” kata Yuni dalam talkshow virtual Tidak Mudik Lebih Baik yang digelar Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) seperti dikutip Solopos.com, Kamis (15/4/2021).

Yuni mengapresiasi terbitnya kebijakan larangan mudik oleh pemerintah pusat. Larangan ini memperkuat peran daerah untuk mengeluarkan kebijakan serupa. Pada tahun lalu, Sragen kedatangan sedikitnya 10.000 warga yang mudik. Kondisi tersebut merepotkan pemerintah dalam melakukan pengawasan.

Apabila selama periode larangan mudik masih ada warga yang lolos sampai kampung halaman, Yuni memerintahkan satgas di desa/kelurahan untuk mengarantina yang bersangkutan selama tujuh hari. Kemudian, pada hari ke-7 akan ada pemeriksaan PCR.

Jika hasil tes menunjukkan positif Covid-19, yang bersangkutan akan melanjutkan karantina selama 14 hari di tempat karantina milik pemerintah desa/kelurahan dan kabupaten. Pasien bergejala akan mendapat perawatan di rumah sakit.

“Kami minimal tujuh hari. Kalau hanya sebentar itu masyarakat akan menganggap tempat transit biasa. Setelah itu baru testing. Kalau hasil tesnya positif, masuk lagi karantina 14 hari. Ini lebih merepotkan lagi. Jadi kami minta tidak mudik,” kata Yuni.

Yuni juga berkoordinasi dengan TNI dan Polri terkait penyekatan di sejumlah lokasi yang menjadi akses masuk wilayah Sragen. Ada lima lokasi, seperti di tol dan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meski demikian, ada toleransi untuk mobilitas di wilayah aglomerasi seperti Soloraya.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...