Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Super Cepat! Ponpes di Indramayu Gelar Salat Tarawih Hanya Enam Menit, Begini Kata MUI

Ilustrasi: Jemaah salat. (solopos.com)

MURIANEWS, Bandung – Pondok Pesantren Alquraniyah di Desa Dukuh Jati, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, melaksanakan salat tarawih 23 rakaat hanya dalam waktu enam menit. Tarawih super cepat ini, sudah berlangsung turun temurun di pondok pesantren ini.

Di tengah pandemi Covid-19, salat tarawih kilat yang dilakukan oleh para santri ini, lebih cepat satu menit dibanding Ramadan sebelumnya. Di tengah pandemi Covid-19, surat-surat pendek pun tetap dibacakan agar salat tarawih berjamaah tetap berlangsung cepat.

Dalam pelaksanaan salat pun menerapkan protokol pencegahan Covid-19. Pengelola Pondok Pesantren Alquraniyah menyemprotkan area salat dengan cairan disinfektan, termasuk mewajibkan mencuci tangan menggunakan sabun bagi para jemaah.

Shalat tarawih dilaksanakan 20 rakaat, ditambah tiga rakaat salat witir. Pengasuh Pondok Pesantren Alquraniyah, Haji Azun Maudzun menjelaskan, salat dapat berlangsung cepat sebab hanya mengambil rukun-rukunnya saja.

Selain mempercepat salat tarawih pada masa Covid 19 ini, pihaknya juga meniadakan tadarusan membaca al quran.

“Salat tarawih super cepat yang sudah berlangsung 15 tahun ini, bertujuan untuk mengajak minat anak muda untuk salat di bulan suci Ramadhan,” jelas Azun seperti dikutip Okezone.com.

Sementara itu, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat Rafani Akhyar mengingatkan syarat salat adalah khusyuk dan tumaninah. Karena itu ia khawatir dua syarat tersebut terabaikan mengingat salat tarawih yang dilakukan adalah 20 rakaat dan tiga witir.

“Salah satu syarat salat dalah khusyu dan tumaninah. Sekarang bisa dibayangkan salat 23 rakaat dalam waktu lima atau enam menit, dari mana itu bisa khusuk atau bisa tumaninah. Tumaninah itu artinya semua rukun-rukun salat itu bisa terlaksana,” katanya seperti dikutip Sindonews.com.

Selain itu, kata dia, esensi dari tarawih yaitu tidak hanya sekedar melaksanakan salat, tapi juga harus bisa mengambil pelajaran dari salat yang dikerjakan. Artinya, harus memahami bacaan salat yang sedang dikerjakan.

“Itu tidak ada contohnya dari Nabi, bahkan Nabi (Muhammad SAW) kalau melaksanakan salat malam termasuk salat tarawih itu membaca suratnya panjang-panjang. Kemudian hukum sujud nya juga lama, coba sekarang kita lihat di Mekah, kalau salat 23 rakaat berapa jam,” tegas dia.

Dia khawatir, salat tarawih cepat di Pesantren di Indramayu itu hanya mengikuti yang selama ini sudah turun temurun. “Mungkin saja, mungkin, itu tidak berdasarkan dalil-dalil agama hanya berdasarkan kebiasaan kebiasaan adat saja dari orang dulu atau nenek moyangnya. Itu tidak boleh,” imbuh dia.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Okezone.com, Sindonews.com

Comments
Loading...