Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Sirene Peninggalan Belanda di Blora Ini Masih Dipakai untuk Penanda Berbuka dan Imsak

Sirine peninggalan Belanda yang dipasang di atas tiang dan dibunyikan saat waktu berbuka puasa di Blora telah tiba. (MURIANEWS/Priyo)

MURIANEWS, Blora – Suara sirene keras berbunyi tiap petang dan menjelang subuh di Kabupaten Blora selama Ramadan. Sirene yang berada di kompleks pendapa rumah dinas bupati Blora atau sebelah utara Masjid Agung Baitunnur itu, merupakan peninggalan Belanda dan masih difungsikan  hingga saat ini.

Warga Blora dan sekitarnya memang sudah terbiasa dengan bunyi sirene ini diwaktu masuk waktu magrib. Sirene peninggalan yang awalnya berfungsi sebagai penanda jika ada musuh datang itu, kini beralih fungsi sebagai penanda berbuka puasa.

Tak hanya penanda masuknya waktu berbuka, sirene ini juga akan berbunyi saat memasuki waktu imsak. Sirene ini ditempatkan di atas tiang yang cukup tinggi, sehingga suaranya bisa terdengar hingga ke berbagai penjuru.

Kasubbag Rumah Tangga Setda Blora Sri Darminingsih mengatakan, sirene tersebut mulai dijadikan penanda buka puasa dan imsak sejak tahun 1979. Ia menyebut, karena usianya yang sudah tua kini kekuatan suara sirene sudah mulai melemah.

“Di zaman Belanda ya suaranya kuat sekali, namun sekarang karena termakan usia sehingga suara kencang sudah berkurang,” katanya, Rabu (14/4/2021).

Pengendara melintas di sekitar sirene peninggalan Belanda, yang lokasinya agak tertutup rerimbunan pohon. (MURIANEWS/Priyo)

Menurutnya, kini radius suara sirene hanya bisa terdengar sejauh lima kilometer saja. Padahal awalnya suara sirene tersebut bisa terdengar sampai sejauh 15 kilometer, bahkan bisa melebihi dari radius tersebut.

“Dulu bunyinya cukup keras dan sampai terdengar di beberapa kecamatan yang ada di sekitar kota Blora. Seiring jalanya waktu, suaranya setiap tahun mulai melemah” ujarnya.

Sri Darminingsih menjelaskan, sirene itu dipasang di riang setinggi lima belas meter. Setiap puasa ada petugas yang melakukan pengecekan dan membunyikan sirene tersebut.

“Saat ini kami terus melakukan pelestarian dengan mengecek secara rutin. Sehingga setiap tahun tetap bisa digunakan sebagai tanda berbuka puasa,” jelasnya.

Selain itu terkait onderdil yang di dalam bulatan sirene tersebut, pihaknya ingin mengantinya agar suara yang dihasilkan bisa kembali lebih keras.

“Sudah kami cek, tapi belum tahu mana yang rusak. Lagi pula untuk onderdil atau suku cadang tentu juga akan sulit di cari mengingat sirene ini ada sudah sejak lama, namun demikian untuk melestarikanya terus dilakukan perawatan secara rutin,” ucapnya.

Sementara itu salah satu warga Blora, Handi Tri Kuncoro menyebut, dengan adanya sirene yan berbunyi saat berbuka dan imsak ini, sangat membantu bagi warga. Sebab bunyi sirene tersebut bisa menjadi penanda jika waktu awal dan berbuka puasa telah tiba.

“Bunyi sirene ini selalu mendahului suara azan magrib dari masjid manapun yang ada di Blora. Jadi masyarakat tahu jika sudah waktunya berbuka,” ungkapnya.

Handi menjelaskan suara sirene yang sering disebut “nguuk” oleh warga Blora ini dijadikan rujukan semua masjid dan musala. Setelah sirene berbunyi, Masjid Agung Baitunnur Blora seketika langsung mengumandangkan azan maghrib.

Dan azan dari Masjid Agung Baitunnur ini menjadi rujukan bagi masjid-masjid dan musala lainnya di Blora untuk segera mengikuti mengumandangkan azan.

Oleh karena itu setiap sore suara sirene itu selalu dirindukan seluruh warga Blora mendekati waktu berbuka. Hal ini menjadi salah satu ciri khas nuansa Ramadan di Kota Blora.

Pada zaman kolonial Belanda dahulu, suara sirene ini digunakan untuk tanda pemberlakuan jam malam. Setelah sirene berbunyi, semua warga dilarang keluar rumah dan sebagai tanda bahaya yakni adanya serangan dari penjajah.

Sirene dibunyikan dengan harapan warga berkemas dan para pejuang bersiap menghadapi musuh. Sehingga kondisi dahulu dengan sekarang sangat berbeda fungsinya.

 

Kontributor: Priyo
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...