Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Gapura Padureksan Masjid Wali Loran Kulon Kudus, Jadi Gerbang Masuk Islam Warga Hindu Tempo Dulu

Gapura Padureksan Masjid Wali Loram Kulon di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Gapura Padureksan Masjid Wali Loram Kulon, Kudus, hingga saat ini masih berdiri kokoh. Gapura itu berada di sebelah timur Masjid Wali yang berada di Desa loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus.

Gapura Padureksan itu memiliki makna tersendiri dari segi sejarah. Gapura Padureksan tersebut merupakan cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Gapura Padureksan ini menjadi saksi sejarah kebudayaan Islam di masanya. Khususnya bagi masyarakat Loram saat itu.

Menurut penjelasan Juru Pelihara Masjid Wali Loram Kulon Afroh Amanuddin, Gapura Padureksan dulunya digunakan masyarakat Desa Loram yang saat itu masih beragama Hindu untuk memohon ampun sebelum masuk Islam.

Saat itu ketika hendak memeluk Islam harus melewati Gapura Padureksan. “Makanya dinamakan gapura dari kata pangapura atau taubat, dan diletakkan juga di depan masjid,” katanya.

Baca: Trah Loram Lakukan Nganten Mubeng di Masjid Wali

Menurut Afroh ada beberapa pertimbangan gapura ini diakui sebagai cagar budaya. Mulai dari usianya yang sudah lebih dari 50 tahun, bentuk bangunan yang unik, dan memiliki nilai sejarah kebudayaan Islam.

Saat ini, Gapura Padureksan juga masih digunakan sebagai obyjk bagi tradisi Nganten Mubeng bagi trah Loram. Baik itu Loram Kulon maupun Loram Wetan.

“Gapura Padureksan ini juga masih difungsikan untuk prosesi Nganten Mubeng. Prosesinya masuk dari pintu selatan, lalu memasukkan uang amal. Kemudian mengisi buku tamu dan ke luar lewat pintu utara,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...