Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Soal Larangan Mudik, Gubernur Ganjar Anggap Keputusan yang Tepat

Rapat koordinasi pelarangan mudik yang dipimpin Ganjar Pranowo. (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menganggap, keputusan pemerintah pusat untuk melarang mudik pada 6-17 Meii 2021 sebagai keputusan yang tepat dan baik. Ia khawatir, jika masyarakat lengah dengan protokol Kesehatan saat mudik, dikhawatirkan akan terjadi gelombang kedua corona.

Ganjar pun berharap masyarakat tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan, apalagi saat ini penyebaran Covid-19 tengah menurun.

“Jangan sampai terjadi kemudian gelombang kedua karena kita lengah, dan mudik ini bagian dari pergerakkan massa yang paling gede (besar) dalam sejarah, sehingga potensi itu mesti kita mitigasi sejak awal,” kata Ganjar usai memimpin Rapat Penanganan Covid-19 Jawa Tengah dan Larangan Mudik di ruang rapat gedung A kantor Pemprov Jateng, Senin (12/4/2021).

Larangan mudik sendiri dikeluarkan pemerintah melalui Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021.

Ia menyebut, pada masa pelarangan mudik akan ada pos penyekatan di wilayah perbatasan Jateng-DIY, Jateng-Jatim, dan Jateng-Jabar. Ia telah meminta kepala daerah untuk mendukung.

“Akan ada pos terpadu, jadi penyekatan secara detail dan teman-teman dari polda sudah menyiapkan itu, kita dukung dari kabupaten kota termasuk titik perbatasan wilayah yang ada,” ujarnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah Henggar Budi Anggoro menyebut, Pemprov Jateng telah menyiapkan tiga skenario yang dilakukan menyusul adanya pelarangan mudik.

Skenario pertama adalah pra-larangan dari tanggal 1-5 Mei sebagai antisipasi mudik dini. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan akan ada potensi warga melakukan mudik dini yaitu sekitar 20 persen dari data Kemenhub.

“Data survei Kementerian Perhubungan. Ada potensi pemudik Jawa Tengah sekitar 4, 6 juta,” tutur Henggar.

Pihaknya akan melakukan antisipasi dengan melakukan posko mobile.  Posko ini akan bekerja sama dengan instansi terkait, dari kabupaten dan kota, TNI–Polri.

”Harapannya sebelum masa pelarangan ini juga sudah ada pembatasan pergerakan orang yang masuk ke Jawa Tengah,” sambung Henggar.

Sedangkan skenario kedua yaitu terkait orang-orang yang sudah terlanjur mudik dengan berbagai cara dan sudah sampai di kampung halaman. Nantinya yang digunakan adalah optimalisasi PPKM mikro.

“Di Jawa Tengah ini kan kita tahu, kita kenal dengan Jogo Tonggo. Nanti optimalisasinya di situ. Jadi itu yang akan melakukan penanganan terhadap orang yang terlanjur mudik dan sudah sampai ke kampung halaman,” terangnya.

Skenario ketiga, pihaknya akan melakukan operasi pada saat pelarangan. Dengan titik-titik lokasinya ditentukan oleh kepolisian.

Dari catatannya tahun lalu, pemudik di Jawa Tengah yang menggunakan moda transportasi darat, laut, dan udara totalnya sekitar 661 ribu.  Jumlah itu berdasarkan mereka yang mudik karena memang dengan berbagai alasan.

Sementara itu Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jateng Kombes Pol Rudy Syafirudin mengatakan, pihaknya telah menyiapkan 11.217 personel yang akan ditempatkan di 198 pos Operasi Ketupat Candi. Selain itu, juga terdapat 14 titik pos penyekatan perbatasan.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...