Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

OPINI

Doa Lintas Agama dari Menag Memupuk Kesederajatan

Moh Rosyid *)

MENTERI Agama (Menag) beserta jajarannya/para pejabat eselon I dan II se-Indonesia, Senin 5 April 2021 mengadakan rapat kerja nasional (rakernas). Sebagaimana lazim selama ini, tiap forum ada acara doa yang diamini bersama yang dipimpin orang Islam/muslim secara Islam, padahal yang hadir dan mengamini doa oleh umat lintas agama.

Dalam pemahaman Menag Yaqut Cholil Qoumas, perilaku koruptif dan negatif lainnya dapat dijauhkan jika orang dekat dengan Tuhan dengan berdoa. Menag berharap, bila ada acara internal di lingkungan Kemenag yang  dihadiri lintas umat beragama, maka berdoanya dipimpin juga oleh lintas umat beragama.

Kementerian Agama bagi Menag agar menjadi rumah bagi semua agama bukan hanya salah satu umat beragama saja. Tugas kementerian ini memuliakan semua umat agama sebagai rohnya.

 

Tuaian Respon

Respon dari sebagian kecil unsur warga yang bernada kurang respek dengan dalih doa lintas agama dalam satu forum bukanlah toleransi. Selama ini, doa dipimpin tokoh agama yang mayoritas saja, meski dihadiri lintas umat beragama.

Untuk mengurai obsesi Menag dan pendapat tersebut, perlu memahami harapan Menag bahwa doa merupakan ekspresi penghambaan hamba/makhluk pada khaliq/Tuhan diberi kesempatan pada tiap umat beragama, tidak didominasi pimpinan umat mayoritas. Hal ini sesuai prinsip kesederajatan, tidak monopoli kesempatan, mengedukasi pada publik bahwa tiap agama mempunyai cara dan model berdoa pada Tuhan yang esensinya permohonan sesuai pakem/aturannya.

Semakin dikenal/diketahuinya ragam doa agama-agama oleh lintas umat beragama, maka mengurangi sikap merasa lebih unggul diri, sikap yang dilarang dalam ajaran tiap agama. Doa lintas agama dalam forum di intern Kemenag yang dihadiri ragam umat beragama merupakan ide cemerlang sang Menag.

Praktek doa lintas agama telah direalisasikan umat agama Baha’i, agama independen/bukan sekte dalam suatu agama yang dideklarasikan oleh Husein Ali (Bahaullah) pada Kamis 5 Jumadil Ula 1260 H/1844 M di Persia/Iran. Sang Bab/Bahaullah sebagai penerima wahyu tunggal dari Tuhan secara langsung (tanpa perantara) dan sebagai pintu pembuka (akan) datangnya utusan Tuhan yakni Abdul Baha’.

Agama ini menyebar ke seantero benua dan negara hingga di Indonesia sampai kini. Ajarannya mengakui kebenaran ajaran para nabi yang telah ada. Hanya saja, agama ini perkembangannya kurang pesat dari segi jumlah dibanding agama lain.

Semoga kedewasaan menerima keragaman dapat dipupuk dengan cara menyadari perbedaan. Adanya nabi, rasul, utusan Tuhan, telah dituangkan dalam al-Quran surat Yunus ayat 47 bahwa tiap umat mempunyai rasul. Kedewasaan memahami ayat ini bekal untuk toleran bahwa hadirnya nabi/rasul pada suatu umat sebuah keniscayaan. Nuwun. (*)

 

*) Pegiat Komunitas Lintas Agama dan Kepercayaan, Dosen IAIN Kudus

Comments
Loading...