Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Istri Bupati Sumba Timur: “Saya Harus Lihat Langsung, Kalau Tidak Nanti Laporannya Fiktif”

Rombongan istri Bupati Sumba Timur, harus melintasi kubangan lumpur sejauh 1 Km, untuk salurkan bantuan korban longsor di NTT. (KOMPAS.com/DOKUMEN GRACE EKA PUTRI RAMBU HOY ANGGUNG PRAING)

MURIANEWS, Waingapu- Berita mengenai upaya penyaluran bantuan untuk warga Sumba Timur yang terkena bencana banjir dan tanah longsor oleh istri Bupati Sumba Timur, masih menjadi perbincangan. Merliaty Praig Simanjutak, istri Bupati Sumbar Timur,  bahkan harus melewati kubangan lumpur sejauh 1 Km untuk menjangkau masyarakatnya.

Menurut Merliaty, dirinya dan relawan harus berjalan cepat agar bantuan bisa segera tiba di lokasi bencana. Mereka harus berjibaku di tengah lumpur dan hujan yang turun tak pernah berhenti.

“Saya sih konsen ke yang lemah dulu ya. Karena (saya) pikir, ini pasti yang terdampak paling terasa itu kan biasanya ibu-ibu sama bayinya. Saya membayangkan itu anak-anak, perempuan, ibu hamil, lansia itu kayak apa nasibnya kan,” kata Merliaty, seperti yang dikutip MURIANEWS dari kompas.com, Jum’at (9/4/2021).

Sejumlah relawan muda yang bergabung bersama Merliaty adalah warga di sekitar rumah pribadinya di Jalan Sultan Agung, Kelurahan Kamalaputi, Kota Waingapu, Sumba Timur. Merliaty menyebutkan, ajakan terhadap anak muda bertujuan untuk menanamkan rasa peduli dalam diri mereka.

Selama dalam perjalanan, Merliaty selalu menyemangati para relawan meskipun beratnya barang yang dipikul terasa menguras tenaga. Saat itu mereka membawa banyak banyak pakaian, makanan.Sehingga beban yang dibawa memang berat, apalagi harus melewati medan lumpur sedalam paha orang dewasa.

BACA: Salurkan Bantuan, Istri Bupati Sumba Timur Harus Arungi Lumpur Sejauh 1 Km

Barang-barang tersebut merupakan bantuan dari para donatur di Kota Waingapu. Meski sudah berjalan sejauh kurang lebih 1 km, relawan tidak bisa sampai di lokasi terdampak banjir bandang.

Mereka hanya sampai di pinggir Sungai Kiritana yang sedang banjir. Sementara lokasi bencana terletak di seberang sungai tersebut. Bantuan yang dibawakan itu dijemput oleh sejumlah warga dari lokasi bencana.

Menurut Merliaty, beberapa warga tersebut memiliki kemampuan khusus untuk melewati sungai yang sedang banjir. Sebab, mereka merupakan warga asli di sana. Kemudian Merliaty dan relawan muda pulang karena hari hampir petang.

Merliaty mengatakan, ia dan suaminya berpencar ke beberapa lokasi yang mengalami bencana. Merliaty memilih ke Desa Kiritana karena wilayah itu yang terdampak cukup parah berdasarkan laporan yang ia terima.

“Mungkin dengan melihat (langsung) seperti ini, namanya saya istri bupati, setelah pulang saya bisa laporkan sama bapak. Karena saya sudah lihat langsung. Susah, kalau kita tidak lihat langsung. Medan begini harus lihat langsung. Kalau tidak lihat langsung, ceritanya nanti fiktif kan. Jadi, kita harus ke lokasi. Memang yang ada di otak saya, mau lihat kesulitan seperti apa yang akan bisa ceritakan sama bapak (bupati-red), “tambahnya.

Dirinya berharap, informasi ini bisa membuat proses penyaluran bantuan kepada warga di wilayah tersebut bisa disiasati dengan baik.

Penulis: Budi Erje

Editor: Budi Erje

Sumber: kompas.com

Comments
Loading...