Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Salurkan Bantuan, Istri Bupati Sumba Timur Harus Arungi Lumpur Sejauh 1 Km

Rombongan istri Bupati Sumba Timur, harus melintasi kubangan lumpur sejauh 1 Km, untuk salurkan bantuan korban longsor di NTT. (KOMPAS.com/DOKUMEN GRACE EKA PUTRI RAMBU HOY ANGGUNG PRAING)

MURIANEWS, Waingapu- Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur sejak 4 April 2021, sampai saat ini masih menyisakan derita bagi warga. Di Kabupaten Sumba Timur, sampai Jum’at (9/4/2021) dilaporkan masih ada 7.212 jiwa yang harus mengungsi.

Mereka yang yang mengungsi terdiri dari 1.919 Kepala Keluarga (KK). Hal ini disebabkan karena rumah-rumah mereka mengalami rusak berat akibat banjir bandang dan longsor. Secara keseluruhan ada 250 rumah di Sumba Timur yang mengalami kerusakan.

Upaya Pemprov NTT dan pihak-pihak terkait, berupaya membantu rakyatnya untuk bisa menjalani hari-hari berat mereka. Salah satunya adalah mencoba untuk terus menyalurkan bantuan bagi mereka, meski hal ini juga menghadapi tantangan berat.

Salah satunya seperti yang dihadapi TP PKK (Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) NTT. Mereka yang mencoba dan menyalurkan bantuan, di lokasi bencana harus menghadapi medan berat.

Ketua TP PKK NTT, sekaligus istri Bupati Sumba Timur, Merliaty Praing Simanjuntak, bahkan mengaku harus berjuang keras untuk menjangkau masyarakatnya yang terkena musibah. Bersama sejumlah relawan muda, dirinya harus  menerobos lumpur setinggi paha orang dewasa sejauh kurang lebih satu kilometer.

Mereka melakukan hal itu sambil memikul barang bantuan darurat untuk warga penyintas bencana di Desa Kiritana, Kecamatan Kambera, Sumba Timur.Bantuan darurat tersebut antara lain, pakaian, nasi bungkus, mi instan, bubur bayi, dan susu bayi. Selain itu, ada popok bayi, karpet, sabun mandi, dan pasta gigi.

“Jadi begitu, keadaan seperti itu sih yang terlintas di kepala. Apa yang bisa kita lakukan, ya kita lakukan,” kata Merliaty seperti dikutip MURIANEWS dari Kompas.com, Jum’at (9/4/2021).

“Yang kami khawatirkan begini, tidak ada korban nyawa karena bencana, tapi justru (ada korban jiwa) karena tidak terjangkau bantuan (darurat berupa makanan),” tambah Merliati.

Dijelaskannya, pikiran siaga kedaruratan dalam dirinya terbentuk sejak menempuh pendidikan tinggi. Kebutulan dirinya merupakan lulusan sekolah pamong praja. Awalnya ia dan sejumlah relawan berangkat dengan menggunakan mobil dari Waingapu, ibu kota Sumba Timur.

“Waktu itu kan kita pikir bisa pakai mobil. Kan kita sudah bawa mobil yang punya derek to. Saya pikir ‘eh, kalau hanya air saja masih tembus ini mobil begini. Ternyata bukan air, lumpur. Lumpur dalam saat itu,” jelas Merliaty.

Mobil yang ditumpangi Merliaty akhirnya diparkirkan di ujung jalan yang berlumpur. Kemudian, Merliaty dan para relawan berjalan kaki. Pada titik awal lumpur hanya setinggi lutut. Namun saat tiba di lokasi longsor, kedalaman lumpur mencapai paha.

“Kalau yang di awal itu, masih setinggi lutut. Setelah itu sampai di tempat yang longsor, (lumpurnya) dalam sampai paha. Nah, itu yang paling berbahaya di situ. Karena jalannya sisa sedikit saja yang nempel di bukit itu,” ujar Merliaty.

Meski bersusah payah, akhirnya bantuan yang dibawa bisa disampaikan ke warga. Pihaknya berharap bantuan itu bisa membantu mereka, sebelum ada penanganan lebih lanjut.

Penulis: Budi Erje

Editor: Budi Erje

Sumber: kompas.com

Comments
Loading...