Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Makam Keramat Masin Kudus, dari Sewu Sempol Hingga Mitos Kena Petaka Jika Ambil Ranting Jati

Gapura masuk makam Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku di area Makam Keramat Masin. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Apabila mendengar kata keramat, yang pertama terbayang adalah sebuah objek atau tempat yang sakral dan penuh dengan mitos magisnya.

Selain itu, sejarah-sejarah di balik ’status’ keramat pun kerap membuat sebuah tempat atau objek jadi jujukan ngalap berkah atau mencari berkah dengan berbagai kepercayaannya.

Di Kabupaten Kudus, terdapat satu areal pemakaman yang kerap menjadi jujukan warga sekitar Kota Kretek untuk mencari berkah dan memohon pada Yang Maha Kuasa.

Adalah Makam keramat Masin yang berada di Desa Kandang mas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Di makam tersebut, terdapat dua makam yakni makam Raden Ayu Dewi Nawangsih, dan Raden Bagus Rinangku yang kerap didatangi para peziarah.

Terutama menjelang bulan suci Ramadan yang akan dimulai pekan depan. Ditambah, adanya tradisi tahunan yakni sewu sempol membuat masyarakat dalam dan luar Kudus berkunjung ke area makam untuk mengikuti tradisi tersebut.

“Biasanya memang dilakukan pada Kamis terakhir sepekan sebelum Ramadan, jadi hari ini kami lakukan dengan sederhana karena dalam masa pandemi corona,” kata Juru kunci makam, Anas Lirianto usai pelaksanaan tradisi Sewu Sempol, Kamis (8/4/2021).

Tradisi sewu sempol sendiri, kata Anas, adalah seperti masyarakat bersedekah dengan membawa ayam ingkung beserta nasinya. Kemudian dikumpulkan di satu wadah dan didoakan oleh pemuka agama.

Setelahnya, panitia akan mengambil bagian paha ayam untuk diberikan pada masyarakat lainnya.

“Karena yang paling gampang diambil adalah sempol (paha ayam) jadi namanya sewu sempol. ’Sewu’ ini memang dalam artian sebenarnya, karena saat tradisi bisa ada ribuan lebih ingkung dari masyarakat yang dibawa dan didoakan,” ujar dia.

Karena dalam masa pandemi Covid-19, prosesi sewu sempol dilaksanakan secara sederhana tanpa meninggalkan kesan utamanya, yakni bersedekah dan berdoa pada Yang Maha Kuasa.

“Jadi peziarah datang membawa ingkung, meletakkannya, kemudian berdoa, kami bagikan, dan mereka bawa pulang,” katanya.

Di sekitar makam sendiri, terdapat banyak sekali pohon jati yang usianya bisa mencapai ratusan tahun. Semuanya masih berdiri kokoh, namun beberapa pohon ada yang tumbang dan dibiarkan begitu saja di tepian.

Ada satu mitos yang kini masih dipercaya oleh masyarakat setempat dan mereka yang kerap berkunjung ke Makam Keramat Masin. Yakni untuk tidak membawa benda apapun dari areal makam ke luar makam.

Masyarakat percaya, jika hal tersebut dilanggar, maka yang bersangkutan akan menerima sebuah bala atau petaka. Dari yang sudah-sudah, kata Annas, banyak orang menjadi gila atau malah sakit-sakitan. Hingga akhirnya benda tersebut dipulangkan kembali ke areal makam.

“Karena itulah banyak pohon jati yang dibiarkan jatuh begitu saja, jika memang bisa dipergunakan, hanya untuk kepentingan makam saja, bahkan masjid di sekitar sini pun tak bisa menggunakan batang jati yang sudah tumbang untuk pembangunan,” jelas dia.

Makam Keramat Masin sendiri, dibuka untuk umum pada Rabu, Kamis, dan Jumat saja. Selain hari itu, areal makam ditutup. Untuk hari Rabu dan Jumat, hanya sampai sore saja. Sementara untuk hari Kamis, sampai pukul 20.00 WIB.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...