Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Prau, Gunung Terbaik Bagi Penghobby Naik Gunung yang Sudah Berumur

Gunung Prau, di Wonosono, Jawa Tengah, menyugguhkan pemandangan mempesona. (MURIANEWS/Erje)

MURIANEWS, Wonosobo- Kegiatan mendaki gunung, saat ini menjadi trend di masyarakat. Banyak orang yang ‘tergila-gila’ untuk bisa sesering mungkin naik gunung. Namun bagi mereka yang sudah uzur, masalah stamina kadang menjadi persoalan.

Namun saat ini, ada beberapa gunung yang bisa dikatakan ‘bersahabat’ bagi mereka yang sudah memiliki umur. Pendaki tua bisa tetap menyalurkan hobbynya, tanpa kuatir kehabisan tenaga untuk bisa mencapai puncaknya.

Salah satunya adalah Gunung Prau, yang berada di Kawasan Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Dengan ketinggian 2.565 MDPL (Meter Diatas Permukaan Laut), Gunung Prau sudah menawarkan sensasi dingin yang luar biasa.

Anda bisa mencapai puncaknya dalam 3 jam saja, atau lebih bergantung dengan kecepatan pendakian yang dilakukan. Titik pendakiannya bisa dimulai dari beberapa tempat, diantaranya adalah dari Pathak Banteng, Wates dan Dieng. Bagi anda yang sudah tidak yakin dengan power mendaki yang dimiliki, disarankan bisa memulainya dari Pathak Banteng.

Untuk mencapai Gunung Prau, lebih mundah jika anda menjangkau Kota Wonosobo lebih dulu. Bila menggunakan kendaraan pribadi, tinggal mengambil arah ke Dataran Tinggi Dieng yang tersohor itu. Titik-titik awal pendakian Gunung Prau, ada di sisi kanan jalan, sekitar 2 KM sebelum masuk Dieng Plateau.

Jika menggunakan kendaraan umum, maka jangkaulah lebih dulu Terminal Bus Wonosobo. Selanjutnya, dari Terminal Wonosobo segera pilih angkutan ke arah Dieng. Dipastikan akan ada banyak ‘barengan’ yang akan searah tujuan anda.

Jalur pendakian Gunung Prau via Desa Pathak Banteng, sebenarnya bisa dikatakan pendek, untuk ukuran pendakian gunung. Namun harus diakui, tanjakan yang harus dilalui para pendaki membutuhkan tenaga dan mental yang mumpuni.

Ada 3 Pos pendakian yang harus dilewati untuk bisa mencapai puncak Prau. Dari Base Camp Pathak Banteng ke Pos 1, anda masih bisa memanfaatkan jasa ojeg yang dibuka warga setempat. Melalui jalan makadam desa, anda akan melewati perkebunan kentang.

Dari Pos 1 ke Pos II, anda harus mulai melakukan tracking. Uniknya, jalur tracking di sini dalam sebuah kesempatan harus memaksa anda melewati warung milik warga. Pos II akan dicapai dalam satu jam berjalan kaki. Sejak ini, hutan hujan tropis harus anda lewati melalui tanjakan cukup menantang.

Masuk Pos III, hutan hujan tropis masih akan membuat anda merasa segar. Lalu anda akan mencapai sebuah shelter yang kebetulan bisa dijangkau sinyal handphone. Kawasan ini jaraknya sudah tidak jauh dari Sunrise Camp, yang dianggap sebagai puncaknya Gunung Prau. Bisa seperti ini, karena jika anda berjalan ke utara, masih ada bagian gunung yang lebih tinggi.

Di Sunrise Camp, ratusan pendaki yang diperbolehkan naik setiap harinya, biasa membuka tenda di kawasan ini. Biasanya mereka mulai mendaki pada pagi hari, untuk kemudian menginap semalam, dan menikmati sunrise yang luar biasa dari tempat ini.

Jika cuaca pas bagus, maka dari tempat ini akan tersaji pemandangan luar biasa. Gunung Sindoro dan Sumbing akan terlihat di sisi selatan. Jika anda beruntung, dua gunung ini akan terlihat memiliki lingkaran awan di puncak-puncaknya.

Sementara di sisi Timur, Merapi dan Merbabu juga akan terlihat dengan sangat anggun. Pancaran sinar matahari pagi, akan menampilkan kombinasi-kombinasi warna alam yang indah. Bagi anda yang tinggal di kota, dipastikan jarang bisa menikmatinya.

Gunung Prau, saat ini dikenal sebagai salah satu gunung yang banyak didatangi pendaki. Warga Jakarta dan sekitarnya menyebut gunung ini adalah favorit untuk berlibur. Tidak mengherankan jika pada akhirnya, warga di sekitar Gunung Prau saat ini fasih berbahasa Jakarta.

Nah, untuk anda penghobby naik gunung yang sudah merasa uzur, tidak ada salahnya mencoba mendaki gunung Prau ini.

Penulis: Budi Erje
Editor: Budi Erje

Comments
Loading...