Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

OPINI

Budaya dalam Agama

Moh Rosyid *)

BUDAYA/KEBUDAYAAN yang membudaya dalam kehidupan umat beragama terkadang memunculkan respon negatif oleh umat seagama yang tidak membudayakan. Hal ini akibat tidak dipahami bahwa embrio yang membudaya tersebut dari ajaran Islam, misal, disyariatkan silaturahmi/berkunjung.

Syariat ini dibudayakan pada forum 1 Syawal dengan kunjungan antarsesama dari rumah ke rumah. Hanya saja, silaturahmi tidak dibatasi waktu tertentu.

Kemudian syariat yang dikembangkan sesuai kebutuhan dan dinamika pemilik budaya. Misal, syariat menutup aurat bagi perempuan di ruang publik, seluruh tubuh kecuali menutup wajah. Hal ini membudaya dengan pakaian berupa ragam motif, misal berjiIbab, burka, dan cadar.

Hanya saja, oknum teroris yang juga muslimah tatkala melakukan teror/pengeboman dengan bercadar, sehingga bercadar dipukul rata identik dengan kelompok tersebut. Poin selanjutnya yakni syariat membaca selawat (penghormatan muslim) pada Nabi SAW. HaI ini tertradisi membacanya dalam ritual selawatan, teks yang dibaca tentang sejarah Nabi SAW dikemas dalam Kitab adz-Dziba’i karya lmam al-Barzanji (populer dengan sebutan tradisi berjanjen/al-Barzanji) teksnya berbahasa Arab. Kitab tersebut ada jauh setelah wafatnya Nabi SAW (sehingga masa Nabi belum ada).

Berikutnya, bacaan doa secara kolosal dengan mengundang saudara dan tetangga di rumah duka setelah pemakaman dengan kelipatan hari ke 1, 7, 40, 100, 1000 (acara selametan). Dan takbir kolosal keliling desa pada malam 1 Syawal disertai ornamen budaya, dll.

Tradisi tersebut ada yang menganggap tidak syariat Islam dengan dalih tak dilaksanakan Nabi dianggap bid’ah (tak Islami). Bagi yang mentradisikan berdalih sebatas tak ada larangan dan substansinya disyariatkan maka kategori ibadah dengan respon budaya.

Perbedaan tafsir budaya dalam ritual ini bila tidak dewasa memahami perbedaan muncul klaim kebenaran kelompok. Hal yang fatal, menyalahkan kelompok lain sehingga masuk area konflik intern muslim.

 

Solusi Budaya

Menyikapi dua kubu tersebut, idealnya memahami akar disyariatkannya menutup aurat bagi perempuan, bersilaturahmi, berselawat, berdoa yang pahala doanya untuk arwah, dan bertakbir pada malam 1 Syawal yang direspon dengan budaya.

Keberadaan budaya agar syariat lestari dan tidak kering dengan dinamika dan sentuhan budaya tidak keluar dari frame syariat maka tak perlu tradisi menggangu publik, misal takbir keliling desa pada malam 1 Syawal tidak menggangu kenyamanan pengguna jalan umum, tidak bertakbir melalui pengeras suara yang memekakkan telinga hingga dini hari.

Keringnya budaya menciptakan kakunya pelaksanaan syariat. Budaya/kebudayaan merupakan bentuk kreasi manusia merespon ajaran syariat agar makin dinamis yang tercipta keindahan dan kesyahduan. Nuwun. (*)

 

*) Penulis adalah pemerhati budaya, dosen IAIN Kudus

Comments
Loading...