Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Gurihnya Bubur Bakar Corona di Kudus, Bikin Keringetan dan Tingkatkan Imun

Chafid Nugroho saat menunjukkan menu bubur bakar coronanya (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Industri kuliner dengan nama dan penyajian unik kian hari mulai bermunculan dan digunakan oleh para pelaku usaha makanan. Terlebih, pandemi corona yang tak kunjung usai ini, memaksa mereka untuk terus berinovasi mengembangkan usahanya.

Satu kuliner dari Kabupaten Kudus ini juga demikian. Adalah bubur bakar corona yang terletak di kompleks kuliner timur Gedung DPRD Kudus, Desa Getas Pejaten Kecamatan Jati, Kudus.

Bagi Anda yang penasaran, tak ada salahnya mencicipi kuliner dengan nama yang identik dengan pandemi saat ini. Penyajiannya juga terbilang nyentrik.

Secara penampilan, bubur bakar corona tak jauh seperti bubur pada umumnya. Ada nasi yang dilembutkan menjadi bubur, suwiran ayam, sayur-sayuran, hingga kacang. Kemudian dituang kuah bening yang kaya akan rempah.

Namun, alas yang digunakan untuk menampung bahan-bahan tersebutlah yang khas. Yakni menggunakan cobek.

Tampilan seporsi bubur bakar corona. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

Chafid Nugroho (37), pemilik usaha tersebut mengatakan jika bubur bersama semua topingnya akan ditata di cobek khusus. Kemudian cobek tersebut dibakar di kompor untuk mengeluarkan aroma khas dari cobek dan kuah rempahnya.

“Sehingga ada aroma yang khas yang tidak dimiliki bubur ayam seperti biasanya dan tetap bisa meningkatkan imun,” katanya, Senin (5/4/2021).

Bubur itu, lanjut dia, kemudian bisa diberi tambahan sambal cair dan kecap. Namun apabila pembeli suka terhadap sensasi pedas, mereka bisa menambahkan sambal krecek yang pedas untuk meningkatkan cita rasa bubur bakar.

“Jadi bubur yang panas, kuahnya juga panas, ditambah sambal krecek yang pedas, sangat segar hingga bisa buat keringetan,” kata dia.

Seporsi bubur bakar sendiri dia jual dengan harga Rp 11 ribu. Para pembeli, juga bisa memesan menu pelengkap seperti sate telur puyuh dan lainnya.

Namun memang, apabila ingin menikmati bubur tersebut, pelanggan hanya bisa makan di tempat saja. “Karena penyajian yang harus menggunakan cobek, maka memang hanya bisa makan di tempat saja,” kata dia.

Sementara soal nama nyentrik yang dipakai, Chafid menagatakan jika nama tersebut diambil dengan spontan saja. “Karena nama saya Chafid, saya ubah saja jadi covid, maksudnya corona itu,” sambung dia.

Modal dia berjualan, sambungnya, juga berasal dari kartu prakerja. Usai dia di-PHK oleh perusahaannya karena kecelakaan.

“Saya sudah merintis sejak Oktober lalu, silahkan berkunjung apabila ingin mencicipi bubur dengan rasa yang khas ini, kami buka dari jam 10 pagi hingga 10 malam,” tandasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...