Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

OPINI

Memaknai Syiar Agama

Moh Rosyid *)

SETIAP ajaran agama dipublikasikan oleh agamawan agar dipahami publik. Proses publikasi sering berhadapan antaragamawan di tengah kehidupan. Menyiasatinya, agamawan menggunakan ragam metode agar ajarannya direspon publik yang seagama atau umat agama lain.

Kondisi ini terjadi kompetisi karena bagi yang umatnya sudah mayoritas ingin mempertahankan dan menambah, begitu pula yang minoritas. Di tengah kompetisi ini, bila tak disadari, konflik terselubung atau terbuka menjadi fakta.

Potret mendominasinya umat mayoritas dangan dalih syiar agama tercermin daIam penggunaan pengeras suara keluar dari/di tempat ibadah utamanya pada bulan Ramadan. Akan tetapi, bila penggunaannya berlebihan, misal terlalu malam (melebihi pukul 21.00) atau terlalu dini (sebelum pukul 04.00) sejatinya direspon negatif oleh intern dan ekstern umat meski penolakannya tidak selalu terbuka.

Kondisi ini memunculkan apatisme dan bila tak terkendali respon negatifnya pun terbuka/konflik. Respon sebagai wujud kritik dari intern umat yang sadar bahwa menjaga kenyamanan bermasyarakat, tidak bising sangat penting daripada dalih syiar.

 

Dakwah Milenial

Era milenial ditandai mudahnya orang mengakses info yang ragam, sehingga makna syiar yang menggunakan pengeras suara over loud dianggap jadul dan primitif. Hanya saja, masjid model jadul itu dominasi di perkampungan yang keislamannya masih belia dalam taraf berpikir dan menafikan kepedulian bersesama.

Adapun masjid yang jemaah dan takmirnya telah dewasa dicontohkan oleh Masjid al-Aqsha Menara Kudus dan Baitussalam Kauman Jekulo Kudus. Keduanya tidak menggunakan pengeras suara over demi menjaga kenyamanan bersama.

Hal ini perlu dicontoh bila ingin dewasa beragama. Kebisingan sebagai penanda bahwa beragama, beribadah, menjaga kenyamanan tidak selalu seiring dengan dalih syiar yang berpijak dari pemikiran sempit, kolot, primitif, tidak dewasa perlu didewasakan oleh tokoh agama dan masyarakat.

Tujuannnya agar esensi beribadah (membaca/tadarus Al-Quran, mengajak/mengingatkan sahur/tarkhim) ada batas etika penggunaan pengeras suara. Semakin ikhlas beribadah, semakin jauh dari publikasi, semakin terpublikasi maka keikhlasan ibadah semakin hambar.

Prinsip dasar beribadah adalah menghamba pada Tuhan yang tanpa mengganggu bersesama. Kedewasaan beribadah terwujud bila umat dibekali ilmu agama, fikih (ilmu di antaranya untuk modal beribadah dengan benar), tauhid (ilmu mengenal hakikat sebagai hamba di hadapan Tuhan) bekal umat beribadah hanya untuk Tuhan, tidak riya, pamer agar dipuja sesama, menduakan Tuhan. Al-Quran surat al Ma’un dengan tegas menyatakan bahwa orang yang beribadah tetapi ingin dipuja sesama dengan ibadahnya (suaranya ingin didengar publik untuk pamer/riya), dia pendusta agama.

Mudahnya orang memanfaatkan teknologi untuk memahami ajaran agama dari agamawan yang berkualitas, mendengarkan dibacanya ayat Al-Quran dari ragam teknik. Hal ini terlahir umat yang sadar beragama sebagai bekal dewasa beribadah. Semaga ibadah kita, ikhkas, tak ingin dipuja, bekal menghadap Tuhan. Nuwun. (*)

 

*) Penulis adalah dosen IAIN Kudus

Comments
Loading...