Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Kesal Pandemi Tak Segera Berakhir, Dalang di Boyolali ‘Ngamuk’ dan Rusak Gamelan

Ki Gondho Wartoyo, dalang asal Desa Tegalgiri, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, berdiri di tengah gamelan yang dia rusak di depan rumahnya, Senin (29/3/2021). (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)

MURIANEWS, Boyolali – Ekspresi kekesalan atas kondisi pandemic Covid-19 yang tak kunjung berakhir diungkapkan dengan cara yang tak biasa di Boyolali. Seorang dalang yang diketahui bernama Ki Gondho Wartoyo “mengamuk” dan merusak seperangkat gamelan, Minggu (28/3/2021).

Aksi tersebut kemudian diabadikan dalam bentuk video dan diunggah di media sosial. Sontak saja dalang asal Desa Tegalgiri, Kecamatan Nogosari langsung viral.

Saat ditemui wartawan di rumahnya, Senin (29/3/2021), Ki Gondho mengakui aksi itu sengaja ia lakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasinya kepada pemerintah pusat.

Bukan karena gamelannya sudah tidak bagus lagi atau karena gamelannya sudah tidak berfungsi. Namun karena kini gamelan yang ia miliki seakan sudah tidak ada gunanya.

Baca: Viral Video Oknum Polwan Pati Kepergok Suami saat Bermesraan di Kamar Hotel Semarang

Dulu sebelum pandemi Covid-19, para seniman dalang termasuk di Boyolali bisa berkarya dan mendapatkan penghasilan dengan pentas wayang. Tapi selama setahun terakhir hal itu sulit dilakukan karena larangan menggelar wayang untuk mencegah kerumunan.

Ki Gondho mengatakan dampak dari kondisi itu kini para dalang dan seniman banyak yang mengalami kesulitan ekonomi. Sebab sudah tidak bisa lagi mencari nafkah untuk keluarganya.

“Itu memang aksi saya. Dikatakan frustrasi, ya memang frustrasi. Sebab kami sudah menyuarakan ke DPRD, ke pemerintah provinsi. Banyak usaha dari para seniman, tapi sampai sekarang belum ada kelonggaran untuk izin pentas,” katanya seperti dikutip Solopos.com.

Pada sisi lain, Ki Gondho menambahkan gamelan juga tidak laku dan sulit dijual. “Dijual kiloan saja sudah tidak ada yang mau beli. Mau buat makan saja sudah pada repot. Maka kemarin saat saya lihat gamelan itu, saya pukul saja,” ujar dalang asal Boyolali.

Baca: Teman Laki-Laki Polwan Pati saat Kepergok Suami di Kamar Hotel Semarang Juga Polisi, Kini Ditangani Propam

Pada tayangan video aksi itu, Ki Gondho terlihat memukul-mukul gamelannya menggunakan palu besar. Video direkam di depan rumahnya.
Ki Gondho mengatakan sebelumnya ia sudah kehilangan tiga set gamelan.

Ia menceritakan kondisi pandemi Covid-19 sudah berdampak ke bidang seni dan budaya sejak awal. Selain sebagai dalang, Ki Gondho juga berjualan gamelan.

“Saat itu saya sudah mengumpulkan dagangan [alat gamelan] untuk dijual. Tapi kemudian ada pandemi ini. Padahal uang harus mengalir. Ketika itu mandek, gamelan saat itu kami gadaikan. Itu terjadi saat tiga bulan pertama pandemi,” jelasnya.

Namun hingga kini, dalang asal Boyolali itu tidak bisa menebus gamelannya karena sudah tidak ada lagi pemasukan. “Sampai sekarang untuk membayar bunganya juga sudah tidak bisa akhirnya kami lepas,” lanjutnya.

Baca: Kasus Video Oknum Polwan Kepergok Suami saat Ngamar di Hotel Semarang Berlanjut ke Ranah Hukum

Ki Gondho mengatakan harga satu set gamelan sekitar Rp280 juta. Melalui aksi tersebut ia berharap segera muncul kebijakan dari pemerintah pusat untuk memberi kelonggaran untuk para pelaku seni, termasuk dalang, untuk menggelar pentas. “Harapan kami ke pemerintah, izin pentas dengan protokol kesehatan bisa dilakukan,” tuturnya.

Menurutnya penerapan protokol kesehatan pada pertunjukan wayang sangat mungkin dilakukan. Penonton yang datang juga bisa diatur jarak duduknya.

Dalang asal Boyolali itu melihat beberapa daerah sudah membuka izin untuk menggelar hajatan dengan melibatkan pelaku kesenian, namun hanya siang hari. Malam hari, izin itu tidak berlaku.

Sementara pertunjukan wayang umumnya dilakukan malam hari. Menurutnya untuk sementara ini kegiatan baru bisa dilakukan di Karanganyar yang sudah membuka izin malam hingga pukul 24.00 WIB.

“Kami berharap pemerintah tepat mengambil kebijakan. Di Karanganyar saya kira bisa dijadikan contoh. Malam boleh ada pentas wayang walau hanya sampai pukul 24.00 WIB. Saat ini kami memang baru bisa bekerja di Karanganyar,” jelasnya.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...